Akuntansi Syariah, Bukan Cinta Pertama

Seperti kata pepatah, sekali nyemplung mending sekalian belajar berenang. Ini pepatah modifikasi bikinan orang-orang. Tapi, rasanya pepatah ini tepat untuk kondisi saya saat ini. Karena, pada awalnya, saya merasa salah jurusan setelah menjadi mahasiswa akuntansi di salah satu universitas di kota Malang. Mengapa salah jurusan ? karena sampai semester 5, saya merasa mata kuliah yang disajikan di jurusan akuntansi sangat membosankan karena penuh dengan hitung-menghitung.

Awalnya, sebagai remaja yang baru lulus SMA, saya bingung mau memilih jurusan apa untuk kuliah. Dua mata pelajaran yang paling saya kuasai atau paling saya senangi saat SMA adalah akuntansi dan bahasa indonesia. Tapi saat itu, saya tidak punya gambaran setelah lulus dari jurusan bahasa indonesia, saya akan menjadi apa. Baru saya tahu belakangan kalau menjadi mahasiswa bahasa indonesia sangatlah asyik dan punya banyak peluang. Hiks.

Akhirnya saya memilih jurusan akuntansi. Sampai semester 5, saya tetap menjadi anak yang baik dengan mengikuti perkuliahan dan mendapat ipk yang pas banget di atas 3 meskipun tidak cumlaude. Saat itu saya memang punya target, jika ipk saya di atas 3, maka saya berhak dolan dan melakukan apapun yang saya suka. Sebagai pelarian, maka saya lebih banyak mengikuti kegiatan di UKM Seni Operet dan Kentrung Blero serta UKM Penulis. Di dua UKM itu, saya merasa menemukan dunia saya yang memang lebih tertarik pada seni, budaya, dan sastra. Di tempat itu juga saya tak henti-hentinya iri dengan beberapa teman saya dari fakultas sastra yang begitu asyik karena dari mereka saya tahu banyak tentang judul-judul dan penulis buku sastra. Keseharian saya lebih berkutat dengan seni dan sastra ketimbang akuntansi. Saya mempelajari akuntansi ketika di dalam kelas. Selanjutnya, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku fiksi dan menulis puisi atau cerpen.

Sampai akhirnya, pada semester 7, saya mendapat mata kuliah Akuntansi Syariah. Saat itu, dosen pengampu mata kuliah Akuntansi Syariah memberikan referensi buku Akuntansi Syariah yang ditulis oleh Iwan Triyuwono, seorang profesor akuntansi dari Universitas Brawijaya. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam mata kuliah di jurusan akuntansi, saya mendengar ada istilah ‘manunggaling kawula gusti’ dan ‘sinergi oposisi biner’ serta istilah-istilah tidak familiar lainnya. Dan, saya terpukau. Sejak saat itu, saya penasaran dan mulai mencari apa itu akuntansi syariah.

Lulus strata 1, saya melanjutkan kuliah magister akuntansi di Universitas Brawijaya. Saya mengambil joint program yang memadukan gelar Ak dari Program Profesi Akuntansi (PPAk) dan gelar MSA dari program magister akuntansi. Karena mengikuti program ini, saya tidak bisa memilih konsentrasi akuntansi syariah seperti yang saya impikan sejak strata 1. Tapi, saya menggantinya dengan mengikuti berbagai pelatihan akuntansi syariah yang diselenggarakan oleh FEB UB yaitu TOT Teori Akuntansi Syariah level dasar dan level menengah, TOT Akuntansi Perbankan Syariah, dan pelatihan-pelatihan lainnya. Selain itu, saya membaca buku-buku dan penelitian-penelitian akuntasi syariah yang ada di perpustakaan.

Yang menarik dari program pascasarjana FEB UB, di sini ada aliran pembanding paradigma positivisme dalam penelitian akuntansi. Adalah aliran non positivisme sebagai pembanding aliran positivisme yang sangat kuat di FEB UB dengan dukungan beberapa profesor yang mendalami penelitian di bidang akuntansi. Aliran non positivisme seperti interpretif, kritis, postmodernisme, feminisme, dan religius. Bahkan di FEB UB, ada Masyarakat Akuntansi Multiparadigma (MAMI) dimana saya ikut bergabung di dalamnya dan mengikuti beberapa seminar yang diadakan olehnya. Pernah bertemu dan mengikuti perkuliahan di kelas bersama para dosen yang menularkan aliran nonpositivisme membuat saya terpukau dan semakin mencintai akuntansi.

Sekalipun penelitian tesis saya mengambil tema akuntansi sektor publik atau akuntansi pemerintahan, yaitu tentang implementasi anggaran berbasis kinerja di Badan Layanan Umum (BLU) Perguruan Tinggi Negeri di Kota Malang, bukan berarti saya tidak lagi tertarik dengan akuntansi syariah. Tema penelitian ini saya pilih karena sesuai dengan pekerjaan saya saat itu sebagai staf keuangan dan staf perencanaan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya ingin memberikan kontribusi terhadap bidang akuntansi sektor publik yang menjadi bidang pekerjaan saya saat itu.

Perjalanan masih akan terus berlanjut. Akhir tahun 2017 lalu, saya lolos tes di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pekalongan untuk formasi dosen Akuntansi Syariah. Awal yang baru untuk berjuang di bidang Akuntansi Syariah. Sekalipun akuntansi bukanlah cinta pertama, besar harapan saya semakin hari akan semakin mencintai akuntansi syariah sebagai sebuah cinta sejati. Sebuah cinta terhadap keilmuan yang membuat saya akan berjuang mengembangkan dan menerapkan ilmu akuntansi syariah. Sampai kapanpun.

 

Foto : Gedung baru FEBI IAIN Pekalongan di Kajen Kabupaten Pekalongan tempat saya mengabdi

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *