Film Ayat-Ayat 2, Tentang Fahri Dan Kisah Cinta Yang Sempurna

Awalnya, saya agak malas buat nonton film Ayat-Ayat Cinta 2 setelah membaca novelnya yang super duper tebal dengan jumlah halamannya lebih dari 500 halaman. Tapi karena rasa penasaran dengan hasil ekranisasi novel Ayat-Ayat Cinta 2 ditambah dengan banyaknya review baik positif maupun negatif, membuat saya ingin menonton film ini. Apalagi, setelah tahu film ini digarap oleh Guntur Soehardjanto bukan lagi oleh Hanung Bramantyo yang pernah menggarap film Ayat-Ayat Cinta 1 pada tahun 2008 lalu.

Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) 1 memang menjadi ‘pembuka gerbang’ bagi film-film islami. Bahkan, novel AAC 1 seakan menjadi novel fenomenal yang akhirnya menjadi penanda kemunculan novel-novel islami dengan embel-embel novel pembangun jiwa atau istilah lainnya. Dengan penonton sebanyak 3,7 juta, film dan lagu soundtrack AAC 1 memang sangat booming dan melegenda. Saya termasuk salah satu penonton film AAC 1 karena alasan pribadi. Saat itu, kebetulan suami saya (dulu masih teman) memang sedang berkuliah di Al-Azhar Mesir. Jadinya ya saya pingin punya gambaran visual seperti apa sih kehidupan mahasiswa Al Azhar. Meski akhirnya suami saya pulang ke Indonesia 3 tahun kemudian karena sakit dan tidak menyelesaikan kuliah di sana.

Baca juga : Film Trinity The Nekad Traveler : Sebuah Catatan Singkat

Nah, Film AAC 2 bercerita tentang kelanjutan kisah Fahri dan Aisha di film AAC 1. Diceritakan bahwa Novel AAC 2 masih tetap berkisah tentang kesempurnaan hidup Fahri. Diceritakan bahwa Aisha menghilang tanpa kepastian apakah masih hidup atau sudah meninggal setelah dia pergi ke Palestina. Fahri yang sangat mencintai Aisha sangat terpukul hingga bertahun-tahun kemudian.

Disisi lain, Fahri tetap menjalani kehidupannya sebagai pengajar di Universitas Edinburgh (lalu pindah ke Universitas Oxford) sambil mengelola bisnis restoran, minimarket dan butik yang dia rintis bersama aisha. Ditengah-tengah itulah konflik-konflik bermunculan. Sentimen terhadap islam di Eropa yang dia hadapi, dan ketulusan untuk menolong tetangganya yang beragama yahudi dan kristen, serta dakwah-dakwah yang dilakukan Fahri selama di Inggris diceritakan dengan adegan dan percakapan yang sangat lugas hingga terkesan menjadi Fahri adalah sosok yang sangat sempurna.

Saya pikir si Fahri akan kembali ke Indonesia lalu menikah dengan perempuan Indonesia. Tapi sepertinya Ayat-ayat Cinta didesain sejak awal untuk ‘berselera internasional’. Berbeda dengan cerita di novel dan film Ketika Cinta Bertasbih yang lebih membumi dan meng’indonesia’. Di AAC 2, Aisha diceritakan menghilang ketika sedang berada di Palestina tanpa diketahui apakah dia masi hidup atau sudah meninggal dunia. Lalu ada tokoh baru bernama Hulya. Sepupu Aisha dari Turki yang memiliki paras mirip dengan Aisha. Hulya dijodohkan dengan Fahri. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. Kebahagiaan mereka berakhir setelah Hulya meninggal setelah ditusuk oleh seorang laki-laki mabuk. Sebelum meninggal Hulya berwasiat untuk mengoperasi wajah Sabina, pembantu dan pengasuh anak Fahri dan Hulya, dan mendonaturkan wajahnya untuk Sabina. Singkat kata, sang penulis sejak awal berusaha untuk membuat teka-teki bahwa ternyata Sabina adalah Aisha yang wajahnya rusak parah setelah kejadian penyiksaan di penjara Israel. Aisha mengaku sebagai Sabina karena dia merasa tidak pantas menjadi istri Fahri lagi karena wajah dan tubuhnya yang rusak.

Baca juga : Filosofi Kopi 2, Tentang Cinta Dan Obsesi Terhadap Kopi

Sejak awal film, kita sudah langsung disuguhi tentang kebaikan Fahri secara bertubi-tubi yang membantu tetangga-tetangganya yang begitu membenci islam dan Fahri yang seorang muslim. Tapi sekalipun begitu, film ini mampu memadatkan novel setebal 500 halaman. Jika saya agak tersiksa ketika menyelesaikan novelnya, film ini tidak demikian. Saya tetap menikmati dari awal film sampai akhir. Bahkan sosok Hulya jadi benar-benar hidup di sini. Kesannya benar-benar sesuai dengan karakter Hulya di novel yang cerdas dan ceria. Saya jadi tambah ngefans sama Tatjana Saphira setelah menonton film AAC 2. Lagipula sekalipun cerita dalam film ini agak bikin jengkel, film ini digarap dengan bagus,punya setting yang keren serta diiringi oleh soundtrack yang apik.

Sekalipun banyak yang meragukan kesempurnaan tokoh Fahri yang serasa tanpa cela, tapi kebaikan dan kesempurnaan Fahri sebagai laki-laki tampan, kaya, pintar, dan penuh dengan karakter muslim yang sangat kaffah sebenarnya tidak terlalu mengganggu saya. Tapi dalam sebuah cerita, jika semuanya terlalu digambarkan dengan sempurna, kesannya menjadi terlalu mengada-ada. Mirip dengan sinetron di televisi yang tokoh utamanya selalu dijahati dan dijadikan bulan-bulanan sampai episode ke-1000 tanpa ada sedikitpun perlawanan. Apalagi saat adegan debat yang menurut saya sih gak bisa dibilang debat secara akademis tapi lebih seperti pidato atau rangkaian kata-kata mutiara yang dilontarkan dengan setting-an terlalu kentara.

Bagian yang paling saya sebal sejak saya membaca novel AAC 2 adalah mengapa wajah Sabina harus dioperasi dengan menggunakan wajah cantik Hulya? Jika diceritakan Fahri sangat mencintai Aisha, pasti dia bisa menerima apapun keadaan Aisha. Tapi memang disini Fahri harus sempurna sampai akhir film. Selain ketampanan, kepintaran, dan kekayaannya, bahkan untuk urusan percintaan pun Fahri punya segalanya. Wanita-wanita yang mengaguminya. Anak laki-laki yang dilahirkan oleh Hulya sebelum dia meninggal dunia. Serta cinta sejati jiwa Aisha yang akhirnya mewujud pada wajah cantik Hulya. Kurang apa coba ? Hehehe.

Ada satu adegan bagus yang terus saya ingat tentang pesan moral di film ini, selain tentang toleransi antar umat beragama. Yaitu ketika Fahri meminta sebuah nasehat kepada sahabatnya, Misbah, yang mengingatkan Fahri tentang sikap dan kebaikan Fahri selama ini yang mungkin punya niat salah. Fahri selama ini hanya berharap agar amal ibadah yang dia lakukan pahalanya bisa sampai ke Aisha jika Aisha sudah meninggal. Padahal, selayaknya semua amal ibadah yang kita lakukan seharusnya hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. Jleb banget deh. Kena ini di hati saya.

Bagaimanapun, lepas dari semua komentar positif dan negatif atas film ini. Film AAC 2 tetap diminati oleh penonton karena mampu meraup jutaan penonton dalam sepekan penayangannya. Mungkin memang film-film bergenre drama religi / drama islami sudah mempunyai pangsa pasar sendiri, yaitu kelas menengah muslim di Indonesia yang tetap membutuhkan ‘hiburan’ namun masih berbau islami.

Baca juga : Puisi-Puisi Yang Berjatuhan di Film Hujan Bulan Juni

Film Ayat-Ayat Cinta 2

  • Produksi : MD Pictures
  • Genre : Drama (Adaptasi Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy)
  • Produser : Manoj Punjabi dan Dhamoo Punjabi
  • Sutradara : Guntur Soehardjanto
  • Penulis Skenario : Alim Sudio dan Ifan Ismail
  • Pemeran : Fedi Nuril (Fahri), Tatjana Saphira (Hulya), Chelsea Islan (Keira), Dewi Sandra (Sabina/Aisha), Nur Fazura (Brenda), Pandji Pragiwaksono (Hulusi), Bront Palarae (Baruch), Dewi Irawan (Catarina), Deborah Whyte (Janet), Cole Gribble (Jason), Arie K. Untung (Misbah), Mathias Muchus (Paman Fahri), Syifa Hadju (Fatimah)
  • Tanggal liris : 21 Desember 2017
  • Durasi :  128 menit

Sumber foto utama : Instagram @filmaac2

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *