Hal-hal Yang Belum Selesai Dalam Diri Saya (Part 3)

Saya kira, episode tulisan tentang hal-hal yang belum selesai dalam diri saya hanya akan berakhir pada bagian ke-2. Ternyata, saya masih menemukan banyak hal yang membuat saya kalut. Kejadian ini bermula saat saya menangis di tengah tawa penonton lain ketika saya dan suami menonton film Trinity The Nekad Traveler minggu lalu. Saat itu saya baru menyadari alasan mengapa saya stres selama dua bulan ini dan menghabiskan gaji saya dengan wisata kuliner di Kota Malang. Mungkin saya merindukan diri saya yang lain, seorang Ria yang suka jalan-jalan.

Tahun 2012-2015 barangkali adalah tahun-tahun dimana saya menghabiskan tabungan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Saat itu, saya memang membuat daftar tempat yang ingin saya kunjungi dan ditempelkan di pintu lemari. Saat itu, dengan perencanaan anggaran yang rinci serta jadwal yang sudah saya susun, saya pergi ke tempat yang ada di daftar tersebut. Ada tempat yang saya datangi sendiri. Ada tempat yang saya datangi bersama sahabat. Ada juga tempat yang saya datangi berkelompok dengan orang-orang baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya.

Bisa dipastikan, hampir setiap akhir pekan saya tidak ada di kos. Saat itu memang saya sedang sok sibuk dengan segudang agenda jadi bisa pura-pura lupa pada kewajiban saya sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan tesis. Semacam pelarian dari tesis dan pekerjaan membosankan di kantor. Baru ketika akhir tahun 2014 saya agak tobat karena harus menyelesaikan deadline tesis yang jika tidak saya kerjakan, maka saya dianggap mengundurkan diri sebagai mahasiswa.

Tahun 2015, saya kambuh lagi. Setelah bebas dari belenggu tesis dan memperoleh gelar magister, saya jalan-jalan lagi. Kali ini saya nekat berangkat ke Ubud. Bahkan, saya ke Ubud dua kali dalam setahun. Lumayan menguras tabungan. Saat itu saya berpikir, mumpung masih lajang, saya ingin menggunakan waktu saya sebaik-baiknya. Saya khawatir tidak bisa lagi jalan-jalan setelah saya menikah.

Akhir tahun 2015 saya menikah. Tiga bulan pertama dihabiskan dengan adaptasi kehidupan saya yang baru. Misalnya, saya mulai mengatur waktu pertemuan saya dengan suami. Termasuk mengatur waktu untuk menghadiri acara-acara undangan di keluarga besar kami. Bisa dipastikan hampir tiap dua minggu sekali saya sibuk dengan urusan ini. Meskipun ada jeda antar minggu itu, saya memilih menggunakan waktu untuk beristirahat di kamar. Saya cukup kelelahan sehabis menempuh perjalanan darat yang jauh yang harus saya lewati.

Bukan berarti saya tidak pernah jalan-jalan semenjak kami menikah. Sepanjang tahun 2016, saya sempat jalan-jalan ke Semarang. Pertama, saya sempat menginap di Umbul Sidomukti bareng suami dan teman-teman suami di organisasi pemuda NU Kabupaten Batang. Kedua, saya menginap di tengah kota dan menjelajahi kota Semarang bersama suami. Pernah juga saya jalan-jalan di sekitar rumah suami dan nenek saya di Blitar. Mencuri waktu di sela-sela pertemuan rutin kami. Pernah juga saya jalan-jalan tidak jauh dari tempat tinggal suami di Batang dan Pekalongan.

Kunjungan kedua saya ke Semarang membawa kesan yang dalam buat saya karena inilah untuk pertama kalinya saya benar-benar traveling berdua. Saya menyusun daftar tempat yang ingin saya datangi dan memesan hotel untuk dua malam. Saya juga baru sadar bahwa saya ini mirip dengan Laura di film Laura & Marsha. Laura adalah tokoh yang sangat rinci ketika melakukan perjalanan. Dia tidak menerima hal-hal spontan yang tiba-tiba muncul di tengah perjalanan. Ketika itu terjadi, dia akan stres, marah-marah sambil kehilangan mood. Berkebalikan dengan Laura, Marsha cenderung easy going terhadap segala sesuatu. Tapi justru Marsha yang membuat perjalanan mereka berdua ke Eropa menjadi lebih menarik. Marsha begitu mudah kenal dan bergabung dengan orang baru.

Rasa-rasanya suami saya mirip dengan Marsha. Dalam perjalanan saya ke Semarang, saya cepat stres ketika panas melanda dan macet terjadi di banyak ruas jalan Kota Semarang. Berbeda dengan suami yang cenderung lempeng dan tanpa ekspresi. Saya bisa saja mengomel sepanjang jalan dan suami biasanya cuek sambil pura-pura tuli. Jika saya sudah selesai mengomel, baru suami menyahuti : sudah ngomelnya ?

Dari perjalanan saya di Semarang itu saya menyadari banyak hal. Salah satunya, saya ternyata sangat mudah stres ketika menemui hal yang tidak ada dalam rencana saya. Saya gampang panik. Hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang traveler sejati. Dan saya membutuhkan sosok seperti suami saya, obat penenang sekaligus obat penurun panas yang bisa menghadapi saya di segala suasana. Saat itu, saya menyadari bahwa saya mengalami semacam ketergantungan emosi padanya.

Di tahun kedua kami menikah, saya mulai galau. Saya baper ketika ada teman perempuan yang memposting foto solo traveling ke India. Seharusnya saya seperti dia. Saya baper ketika ada teman saya yang mengunggah karya terbarunya di media. Seharusnya saya seperti dia. Saya baper ketika ada teman saya update foto saat ngampus di sebuah Universitas di benua lain. Seharusnya saya seperti dia. Seharusnya saya begini. Seharusnya saya begitu. Seharusnya saya tidak seperti sekarang. Seharusnya. Seharusnya. Seharusnya. Kata seharusnya berputar di kepala saya hingga saya stres dan lebih banyak tidur tanpa sempat membaca tumpukan buku-buku diskon yang sudah terlanjur saya beli.

Puncaknya, ketika saya menyaksikan trailer film Trinity The Nekad Traveler.  Saya mewek dan baper sepanjang hari. Ada sebagian dari diri yang ada di film itu. Mulai dari mencatat hari libur dan cuti bersama selama setahun, ngemper di stasiun demi mengurangi budget penginapan, berburu promo tiket kereta sampai membuat anggaran rinci serta itinerari perjalanan.

Ya. Di depan saya, ada salah satu impian saya untuk menjadi traveler. Di sebelah saya, ada suami yang juga saya cintai. Kalau dulunya saya lebih suka traveling sendirian atau berkelompok bersama teman, saat ini saya ingin sekali menjelajahi setiap tempat yang indah itu bersama suami saya. Dia melengkapi saya yang moody jika tiba-tiba ada hal luar biasa di jalan. Dia bisa mengubah dirinya menjadi sopir, fotografer, penunjuk jalan dengan instingnya, peta berjalan, dan pemandu wisata. Bahkan dia bisa berubah menjadi guling yang nyaman untuk dipeluk atau bantal yang empuk untuk jadi tempat menangis.

Sayangnya, kami tidak punya waktu banyak. Akhir pekan yang kami punya telah habis untuk perjalanan dan pertemuan-pertemuan singkat yang kadang membuat kami lelah sendiri. Tapi kami memang memilih jalan long distance marriage untuk saat ini dengan alasan-alasan yang memang telah kami pertimbangkan matang. Itulah yang membuat saya baper. Saya ingin jalan-jalan bareng suami tapi kami seakan tidak punya waktu untuk bersama. Saya ingin jalan-jalan tapi kami juga harus berhemat untuk tabungan penikahan kami.

Maka ketika saya menangis di tengah tawa penonton film Trinity The Nekad Traveler, suami saya cuma tersenyum. Dia sudah hafal diluar kepala kalau saya memang cengeng dan gampang mewek. Seperti yang selalu dia bilang : sabar, sabar, dan ikhlas. Dia cuma menggenggam jari-jari tangan kanan saya dan berbisik sambil menirukan salah satu kalimat di film itu : Kalau kita benar-benar menginginkan sesuatu, alam semesta akan mendengar dan membantu mewujudkannya.

Entah mengapa, saya selalu percaya padanya. Dan saya akan menunggu saat itu tiba. Saat dimana Tuhan mengabulkan mimpi-mimpi saya. Mimpi-mimpi kami berdua.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *