Kupu-Kupu di Taman Kunang-Kunang

kupu-kupu-di-taman-kunang-kunang-radar-malang
Aku selalu percaya. Kunang-kunang adalah reinkarnasi dari orang-orang yang kita kasihi. Maka ketika pemerintah kota membuka satu taman baru dengan nama Taman Kunang-Kunang, aku datang setiap hari ke taman ini. Aku datang secara rutin pada sore hari sambil menunggu petang yang datang tidak pernah terlambat.

Aku memandang setiap sudut taman kunang-kunang. Taman yang didesain agar tidak menebang pohon-pohon yang telah ada di sepanjang jalan ini. Taman ini dilengkapi dengan lampu-lampu putih yang secara teratur berkedip-kedip setiap malam. Lampu itu berkedip di antara bangku-bangku yang dibuat agar kita bisa duduk nyaman di sana.

Ironi memang. Kita mencoba menggantikan kunang-kunang yang tidak pernah muncul di kota ini dengan lampu berkedip. Kunang-kunang adalah hewan yang peka. Dia tidak akan kau temukan di tengah kota Malang yang semakin hari semakin penuh manusia. Sementara, suatu hari nanti, anak-anak kita barangkali tidak akan tahu kunang-kunang itu seperti apa karena dia tidak pernah muncul di sekitar kita. Mereka hanya akan melihat kunang-kunang dari buku-buku cerita atau video yang beredar di media sosial tanpa pernah tahu wujud asli kunang-kunang.

Untuk itulah aku datang ke sini setiap petang. Barangkali saja satu lampu kunang-kunang itu berwujud nyata sebagai ia, bayi yang kulahirkan tanpa sempat aku beri nama. Bayi itu berjenis kelamin perempuan. Ia kulahirkan seorang diri di tempat tidurku. Tentu saja, tanpa seorang tahu. Bahkan ia tidak sempat menangis.

Kisahku bermula saat aku mulai jatuh cinta. Sebagai mahasiswa baru di kota ini, aku bahagia mendapatkan kebebasanku. Jauh dari rumah hingga tidak perlu ada lagi orang yang mengomel jika aku pulang lebih dari jam sembilan. Jejaring sosial membuatku banyak bertemu dengan orang baru. Termasuk dia, laki-laki yang usianya jauh dariku. Dia mengaku sebagai seorang karyawan yang tinggal di kota lain, tidak jauh dari kota ini.

Kami berbicara panjang lebar tentang banyak hal. Dia memberiku saran tentang segala sesuatu. Mulai dari permasalahan di kuliah, pertengkaran kecil dengan teman, sampai saran-saran keuangan. Aku merasa mendapatkan sosok kakak yang selama ini tidak pernah kurasakan karena aku adalah anak tunggal.

Hari berlalu, kami memutuskan untuk bertemu. Dia datang ke kota ini. Lalu kami berkeliling kota. Aku berbahagia saat itu. Karena percakapan-percakapan kami di jejaring sosial menjadi percakapan tanpa jarak. Aku bisa memandang pendar matanya. Aku bisa melihat senyumnya.

Pada pertemuan kedua dan ketiga, kami semakin dekat. Tidak ada lagi jarak di antara kami. Bahkan, kami sudah berbagi makanan dalam satu piring. Saat itu aku merasa menjadi satu-satunya perempuan yang paling beruntung di dunia karena mengenalnya. Impianku menjadi sederhana. Segera menyelesaikan studi dan menikah dengannya. Lalu kami memiliki keluarga kecil yang bahagia.

Pada pertemuan keempat, dia mulai mengajakku menginap di hotel pinggir kota. Kami menghabiskan waktu bersama tanpa perlu ada yang takut mengganggu kami. Berdua saja. Ketika sepasang kekasih berduaan di hotel, tahu sendirilah apa yang akan terjadi.

Pertemuan kelima. Pertemuan keenam. Pertemuan ketujuh. Kami masih tetap bersama. Pertemuan kedelapan, ketika aku mengabarkan kepadanya tentang menstruasi bulananku yang tidak datang selama dua bulan. Dia memintaku untuk pergi ke apotek dan membeli alat tes kehamilan. Ketika hasilnya positif, dia tiba-tiba berubah menjadi kasar dan menampar pipiku. Dia bilang betapa tololnya diriku, mengapa aku bisa sampai hamil. Pertemuan kedelapan adalah pertemuan pertama di mana kami bertengkar lalu dia pulang dengan kemarahan.

Pertemuan kesembilan, pertengkaran kami berlanjut. Dia masih menyalahkan kebodohanku yang tidak bisa menjaga diri hingga aku hamil. Kali ini aku mendapat tamparan dua kali. Tidak ada pelukan lagi. Dia meninggalkanku sendirian di penginapan. Tapi entah mengapa aku masih begitu mencintainya, bahkan setelah dia berbuat kasar untuk kedua kalinya.

Pertemuan kesepuluh. Tidak. Tidak ada pertemuan kesepuluh. Dia tidak pernah datang lagi ke kotaku. Tapi teleponnya tidak pernah berhenti. Dia menginginkanku untuk menggugurkan bayi kami. Tiap hari dia memastikan agar aku menuruti permintaannya itu.

Aku pun telah melakukan berbagai cara agar bisa menggugurkan kandunganku. Aku mencari cara-cara untuk menggugurkan kandungan di internet. Bahkan ada situs khusus yang memberikan langkah-langkah praktis untuk menggugurkan kandungan. Tapi ternyata usahaku untuk menggugurkan kandungan berujung kegagalan.

Tiap hari dia masih tetap menghubungiku untuk memastikan bahwa kandunganku sudah kugugurkan. Perutku semakin membesar dan orang-orang mulai curiga. Untuk menghindari kecurigaan yang menjadi-jadi, aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia mulai mencemaskan kandunganku yang semakin membesar.

Di usia kehamilan bulan kedelapan, aku memberanikan diri untuk pergi ke klinik sendirian. Bertanya pada dokter tentang perkiraan hari kelahiran bayiku. Agar aku bisa berjaga-jaga dan menyiapkan segala sesuatunya.

Dia meminta agar bayiku dilahirkan tanpa seorangpun tahu. Bahkan dia memberikan rekomendasi tempat-tempat aman untukku agar melahirkan tanpa perlu khawatir orang lain mengetahuinya. Aku menuruti semua perkataannya. Karena bagiku, dia adalah satu-satunya orang yang aku cintai.

Lalu tibalah saat itu, saat di mana bayiku lahir ke dunia. Ia lahir lebih cepat dua minggu dari tanggal perkiraan dokter. Aku kalang kabut ketika perutku tiba-tiba mulas. Bolak-balik aku pergi ke toilet di dekat kamar karena kukira ini adalah efek rujak ulek yang kumakan kemarin sore.

Ada cairan yang merembes keluar dari bawah dan membasahi kasurku. Ya Tuhan, ini sakit sekali. Rasanya aku ingin berteriak. Tapi tidak mungkin aku berteriak. Bisa-bisa semua penghuni di rumah ini akan tahu bahwa aku melahirkan.

Di tengah kesakitanku, ponselku berbunyi. Dia bertanya apa yang sedang kulakukan. Aku menjawab, sepertinya aku akan melahirkan. Seketika dia naik pitam. Dia keluarkan sumpah serapah, mengapa aku bisa melahirkan bayiku di rumah ini. Tolol. Goblok. Jika aku tahu akan melahirkan, seharusnya aku segera keluar dari rumah agar tidak ada yang mengetahuinya.

Gagal sudah semua rencananya agar aku melahirkan di tempat yang sudah dipersiapkan olehnya. Sebelum menutup telepon, dia mengatakan padaku, aku hanya punya dua pilihan : aku tidak membiarkan bayi itu hidup. Atau dia yang tidak membiarkan aku hidup. Dia berharap aku bisa berpikir waras dan memilih yang terbaik untukku.

Bahkan, aku sudah tidak bisa menangis saat ini. Sakit perut yang melilit karena kontraksi. Hati yang terluka oleh orang yang kucintai. Ketakutan akan ketahuan oleh orang-orang di rumah ini. Semua berputar di kepalaku. Untuk melampiaskan semua rasa itu, aku menggigit selimutku agar tak seorang pun tahu. Kuputar musik dari playlist laptopku agar suasana tidak hening.

Berbekal petunjuk video dari internet, dan sisa-sisa ingatan dari membaca artikel kesehatan calon ibu, aku berusaha mengeluarkan bayi itu dari rahimku. Lalu dengan beberapa kali mengejan, bayi itu keluar dari rahimku. Bersama dengan darah-darah yang berceceran di kasur dan lantai kamarku. Tapi ia tidak menangis. Bahkan tidak menangis sama sekali. Ia hanya diam. Matanya tertutup rapat. Dan hatiku seketika hancur berantakan.

Itulah mengapa aku berada di Taman Kunang-Kunang pada setiap petang. Barangkali saja ia menjelma menjadi kunang-kunang imitasi yang tercermin dalam pendar lampu kelap-kelip taman ini. Di sini, aku merasa bisa memeluknya. Membayangkan ia terlelap di pangkuanku sepanjang malam.

Lalu pada malam kesekian pada tahun kesekian penyesalanku, ketika aku memandang pendar lampu di Taman kunang-kunang, ada satu ekor kupu-kupu bersayap ungu yang hinggap di tanganku lama sekali. Dia berpindah ke pundak. Dan berputar mengelilingku dua kali. Apakah itu ia ?

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 13 Agustus 2017

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *