Langit Yang Jenuh

Di,
Malam ini tetap seperti biasa. Dia masih tidak datang pada sunyiku. Dia lupa akan janji untuk menemaniku menjemput kelam. Aku tahu dia masih disana, ditempat orang menghabiskan waktu bersama larutan-larutan yang tak pernah ku mengerti itu apa.

Di,

Aku sudah berusaha membuat malamku menjadi lebih berarti. Tapi rupanya otakku kalah telak oleh hati yang terbungkus kasih, hingga aku tak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya membiarkan keduanya berseteru dalam diam.

Di,

Rasa ini telah melampaui titik jenuh. Aku dan semua inginku telah letih. Terlalu letih untuk berjalan lagi. Terlalu letih untuk menunggunya menoleh padaku dan memberikan selaksa bentuk pada sudut bibirnya. Ternyata menunggunya lebih sulit daripada memberikan setumpuk ego yang selalu kukunci dalam brankas. Brankas tanpa kunci. Brankas tanpa kode Fibonacci. Brankas tanpa anagram kata. Brankas hati yang hanya bisa dibuka dengan hati. Dan dia punya itu. Meskipun dia tidak pernah menyadari telah memegang hak cipta atas hatiku ini, entahlah…aku bingung….

Di,

Ingin kupindah egoku pada brankas yang tak pernah bisa dibuka oleh hati lagi. Aku ingin memesan brankas baru berukuran 13 x 13 x 13 x m. angka 13. Angka sial, begitu orang bilang. Tapi kali ini aku ingin berjudi dengan angka 13, mungkin aku bisa mengais sedikit keberuntunganku diantara kesialan orang lain. Dengan itu, mungkin aku bisa sedikit lebih beruntung  daripada aku yang hanya jadi penonton untuk hidupku sendiri. Andai semua itu mungkin….

Di,

Aku baru sadar. Dan ini benar-benar kesadaran yang terlalu pelan menjamahku. Sadar ini menusuk tepat di logikaku sekarang. ketika aku menekuri sewujud karakter kami berdua pada gambar dua dimensi tanpa bingkai di pojok dompet kumalku. Ternyata mataku buta. Hatiku buta. Jiwaku buta. Sebentuk bola mata terbuat dari bening hati itu terpancar lurus. Tidak ada senyawa cinta disana. Tidak juga secawan kasih. Bahkan hanya untuk sekilas hawa rindu. Hanya kosong yang terisi ketulusan tak bertuan. Entah untuk siapa.

Di,

Malam ini aku ingin berbalik. Menggenggam sisa bayangnya karena hanya itu yang bisa kumiliki darinya. Tapi, sudahlah. Aku sudah sangat lelah. Aku ingin terhenti sekarang, pada detik akhir setelah asaku mati.

Cukup. Aku akhiri saja. Semoga ini benar-benar akhir dari sebuah keterakhiran.

Malang, 2006

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *