Malam Minggu di Alun-Alun Batu, Menikmati Udara Sore kota Batu dari atas Bianglala

Sewaktu suami ke Malang akhir bulan September lalu, saya pingin jalan-jalan ke Batu. Maklum, sudah hampir 4 bulan lebih saya tidak jalan-jalan ke Batu. Biasanya sih saat kuliah dulu, ada saja alasan yang membuat saya pergi ke Batu karena memang kota Batu hanya ditempuh kurang dari setengah jam dari tempat tinggal saya di pinggiran kota Malang. Setelah bujuk rayu dan sedikit negoisasi, akhirnya saya dan suami pergi ke Batu dan menikmati malam minggu di Alun-Alun Batu.

Kota Batu memang terkenal dengan banyaknya tempat wisata yang asyik untuk keluarga. Contohnya adalah Jatim Park 1, Jatim Park 2, Eco Green Park, Museum Satwa, dan Museum Angkut. Selain itu ada juga wisata Selecta, Cangar, Wisata air terjun (coban), Paralayang, dan masih banyak lainnya. Saya sudah mendatangi beberapa tempat wisata di kota Batu. Hanya beberapa tempat wisata yang baru dan sedang in saat ini belum sempat saya datangi. Salah satunya adalah Museum Angkut.

Dari akhir tahun 2015, seminggu setelah kami menikah, saya mengajak suami pergi ke Museum Angkut. Tapi niat itu saya batalkan mengingat kondisi akhir tahun dan libur sekolah, bisa dipastikan semua tempat wisata di kota Batu akan penuh pengunjung. Akhir bulan september lalu, pas banget jadwal suami berkunjung ke Malang. Akhirnya saya mengajak suami ke Batu. Suami sih meng-iya-kan aja keinginan istrinya, daripada disuruh tidur di teras rumah. Hehehe.

Tapi, rencana awal kami untuk pergi ke Museum Angkut Batu mendadak berubah di tengah perjalanan. Karena setelah dipikir-pikir, akhir bulan kayak gini, mending kami menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang murah meriah alias tanpa tiket masuk. Pilihan kami jatuh pada alun-alun Batu yang terkenal dengan Bianglala dan aneka jajanan di sekitarnya. Kita bisa duduk-duduk santai di sini menikmati udara sore kota Batu yang sejuk. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 1 siang. Sebelum ke alun-alun Batu, kami makan siang dulu di kedai mie pedas Geng Cabe milik sahabat lama saya. Setelah itu, kami mengunjungi Omah Munir yang lokasinya tidak dari alun-alun Batu.

Baca juga : Omah Munir, Rumah Yang Merekam Jejak Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Indonesia

Nah, jika kamu ingin mengunjungi alun-alun Batu, berikut ini sedikit informasi dari saya tentang alun-alun Batu yang mungkin bisa berguna buat kamu.

Gratis Tiket Masuk

Seperti alun-alun di kota lainnya, alun-alun di kota Batu tentu saja gratis untuk pengunjung. Alun-alun di kota Batu memang baru saja direnovasi pada tahun 2010 dan mulai dibuka dengan kondisi yang baru sejak tahun 2011. Pantas saja, alun-alun Batu memang lebih tertata rapi dan tidak ada pedagang asongan di dalamnya. Selain tertata rapi, di dalam alun-alun Batu terdapat taman bermain dan taman lalu lintas khusus anak-anak . Jadi alun-alun Batu benar-benar cocok untuk rekreasi keluarga yang murah meriah dan pastinya bisa membuat anak-anak senang. Selain taman bermain yang gratis, ada juga wahana permainan anak yang berbayar tapi masih bisa dikatakan murah.

Wahana Ferish Wheel

Kalau kamu ingin melihat kota Batu dari ketinggian, bisa mencoba Ferish Wheel atau lebih dikenal dengan sebutan bianglala. Dengan harga tiket cuma 5 ribu rupiah. Kamu bisa menikmati keindahan kota Batu dari udara.

Fasilitas Umum Yang Lengkap

Tidak perlu khawatir, jika kamu ke alun-alun Batu, ada fasilitas umum seperti tempat parkir dan toilet. Jika ingin melaksanakan ibadah sholat, di sebelah alun-alun Batu ada masjid kota Batu yang luas dengan toilet yang memadai.

Kedai Pos Ketan dan kedai Susu Ganesha

Dua kedai ini letaknya berdekatan dan sangat terkenal oleh para wisatawan dari luar kota Batu. Bahkan, antrian untuk mendapatkan satu porsi ketan di Pos Ketan bisa mencapai satu jam. Sama seperti Pos Ketan, di kedai Susu Ganesha juga terkenal dengan susu segarnya. Biasanya orang-orang membeli susu untuk dibawa pulang atau dinikmati langsung di tempat. Antriannya juga lumayan sih tapi tidak selama antrian di Pos Ketan.

Aneka Street Food

Kelaparan ? jangan khawatir, ada banyak pedagang kaki lima di sekitar alun-alun. Ada juga tempat makan dan kafe jika ingin nongkrong sambil ngobrol untuk menikmati keindahan kota Batu. Bahkan, ada pasar kuliner juga lho. Banyak sekali pilihan makanan dan minuman di alun-alun Batu.

Sewaktu kami kesana, saya dan suami naik bianglala. Sekalian nostalgia. Karena sebelum kami menikah, kami sempat mengunjungi alun-alun Batu berdua. Saat itu rasanya bahagia sekali deh. Melihat kota Batu dari ketinggian rasanya beda. Yah, meskipun agak deg-degan juga berada di ketinggian. Khawatir Bianglala berhenti tiba-tiba atau kejadian buruk lainnya. Tapi yah, asalkan berdua sama suami, apapun itu jadinya indah dan (sok) romantis. Uhuukk.

Puas mengelilingi alun-alun Batu dan menikmati keindahan kelap-kelip kota Batu dari atas Bianglala, saya dan suami pindah ke kedai kopi mungil dengan lebar kurang dari 2 meter bernama Kopi Letek yang berada tepat di depan alun-alun Batu. Kami kembali menikmati udara sore kota Batu sambil menyeruput kopi robusta Dampit dari atas lantai 4 kedai ini.

Malam minggu yang menyenangkan !

 

 

 

 

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *