Membangun Dan Mengguncang Jiwa Melalui Novel

ayat-ayat-cinta-2-dan-maryam
Pada suatu hari, ketika Okky Madasari menyambangi Kafe Pustaka dalam rangka diskusi dan promo novel terbaru “Kerumunan Terakhir”, Prof Djoko Saryono berkata : Jika ada novel pembangun jiwa, maka novel-novel karya Okky Madasari adalah novel pengobrak-abrik jiwa. Saya turut mengamini. Kebetulan minggu kemarin saya baru saja membaca novel Ayat-ayat Cinta 2 dan Maryam. Novel AAC 2 saya dapatkan sebagai kado pernikahan dari seorang dosen di Fakultas Syariah yang sudah saya anggap sebagai seorang ibu. Sedangkan novel Maryam sengaja saya beli di stand buku ketika Okky Madasari sedang mengisi acara di Kafe Pustaka.

Novel AAC 2, dengan embel-embel ‘Sebuah Novel Pembangun Jiwa’, merupakan kelanjutan kisah Fahri dan Aisha di Novel Ayat-Ayat Cinta. Novel AAC yang kemudian difilmkan dan penontonnya membludak hingga dianggap sebagai film pertama yang berhasil membuka pasar bagi penonton film islami di Indonesia. Novel AAC 2 masih tetap berkisah tentang kesempurnaan hidup Fahri. Diceritakan bahwa Aisha menghilang tanpa kepastian apakah masih hidup atau sudah meninggal setelah dia pergi ke Palestina. Fahri yang sangat mencintai Aisha sangat terpukul hingga bertahun-tahun kemudian.

Disisi lain, Fahri tetap menjalani kehidupannya sebagai pengajar di Universitas Edinburgh (lalu pindah ke Universitas Oxford) sambil mengelola bisnis restoran, minimarket dan butik yang dia rintis bersama aisha. Ditengah-tengah itulah konflik-konflik bermunculan. Sentimen terhadap islam di Eropa yang dia hadapi, dan ketulusan untuk menolong tetangganya yang beragama yahudi dan kristen, serta dakwah-dakwah yang dilakukan Fahri selama di Inggris diceritakan dengan dialog-dialong panjang, lebar dan agak membosankan.

Saya pikir si Fahri akan kembali ke Indonesia lalu menikah dengan perempuan Indonesia.

Tapi sepertinya Ayat-ayat Cinta didesain sejak awal untuk ‘berselera internasional’.

Datanglah tokoh baru bernama Hulya. Sepupu Aisha dari Turki yang memiliki paras mirip dengan Aisha. Hulya dijodohkan dengan Fahri. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. Kebahagiaan mereka berakhir setelah Hulya meninggal setelah ditusuk oleh seorang laki-laki mabuk. Sebelum meninggal Hulya berwasiat untuk mengoperasi wajah Sabina, pembantu dan pengasuh anak Fahri dan Hulya, dan mendonaturkan wajahnya untuk Sabina (Sumpah. Pada bagian ini saya seperti sedang menonton drama korea).

Singkat kata, sang penulis sejak awal berusaha untuk membuat teka-teki bahwa ternyata Sabina adalah Aisha yang wajahnya rusak parah setelah kejadian penyiksaan di penjara israel. Bagi anda yang terbiasa nonton film detektif seperti sherlock Holmes atau membaca novel-novel Dan Brown, tentu akhir seperti ini bukanlah hal yang mengejutkan. Dan sialnya, saya sudah bisa menduga sejak awal dan tidak terkejut sama sekali.

Novel AAC 3 cocok untuk anda yang lebih senang membaca novel
daripada membaca buku-buku agama islam.

Bisa diperkirakan, dari sekitar 500-an lebih halaman buku ini, inti cerita cinta Fahri, Aisya, dan Hulya hanya menghabiskan 100an halaman. Sisanya sebanyak 400-an halaman berisi gabungan antara nukilan kitab-kitab, hadist, ayat al-Quran, dan perdebatan-perdebatan panjang tentang Yahudi-Kristen-Islam. Mungkin itulah mengapa novel ini diberi label novel pembangun jiwa.

Mari kita beralih ke novel kedua, novel pengobrak-abrik jiwa.

Novel Maryam menceritakan kehidupan sosial Ahmadi yang tidak berbeda dengan organisasi lainnya. Begitupun keluarga Ahmadi yang menjalani kehidupan biasa. Sekolah di sekolah negeri sama seperti lainnya. Tidak ada perdebatan-perdebatan agama disini. Tidak diceritakan juga tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa dan siapa ahmadiyah. Novel ini berfokus pada Maryam yang hidup dengan berbagai cobaan. Maryam lahir dan besar dari keluarga Ahmadiyah. Berbagai cobaan dan diskriminasi didapat Maryam karena dia dianggap berbeda. Tapi Maryam tetap teguh. Setelah lulus SMA, Maryam berkuliah di Surabaya dan tinggal bersama keluarga Ahmadiyah. Sempat dijodoh-jodohkan dengan Gamal, sesama ahmadi yang juga kuliah di Surabaya. Tapi perjodohan itu gagal setelah Gamal menjauh dan berubah.

Selepas lulus kuliah, Maryam pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank swasta. Lalu Maryam bertemu dengan Alam. Seorang laki-laki yang mampu menggantikan posisi Gamal dihatinya. Mereka menikah meskipun keluarga mereka sama-sama tidak setuju. Namun pernikahan itu berakhir dengan perceraian setelah Maryam merasa tertekan. Maryam merasa keluarga Alam selalu menyalahkan dirinya sebagai orang yang penuh dosa dan mereka berdua mendapat karma sehingga tidak jua mempunyai anak.

Maryam kalut.

Ditengah kegundahannya, Maryam mengambil cuti panjang dari kantornya dan berniat menemui keluarganya di desa. Semenjak menikah dengan Alam, Maryam putus komunikasi dengan keluarganya. Dan kondisi telah berubah. Keluarganya diusir dari rumah mereka. Maryam pun menelusuri jejak keluarga mereka. Banyak peristiwa terjadi selama bertahun-tahun Maryam tidak berkomunikasi dengan keluarganya. Keluarganya yang bertahun-tahun hidup nyaman bersama dengan warga lainnya mendadak diusir setelah ada provokasi dari pihak-pihak tertentu. Gelombang pengusiran datang dari segala penjuru dan keluarga-keluarga Ahmadi lainnya akhirnya berkumpul di sekretariat Pengurus Ahmadi. Bertahun-tahun mereka semua hidup dalam pengungsian. Setelah mendapat sumbangan dari sesama anggota Ahmadi dari seluruh dunia, akhirnya mereka bisa membeli perumahan yang dijual murah karena developernya mengalami kerugian. Mereka memulai hidup baru disana.

Maryam memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan hidup kembali bersama keluarganya. Mereka memulai hidup dari awal dengan mengerjakan pekerjaan apa saja. Diam-diam keluarga Maryam menjodohkan Maryam dengan Umar. Sesama Ahmadi yang sempat berpacaran dengan gadis bali. Di usia yang sama-sama tidak muda lagi, mereka memutuskan untuk mencoba menjalani hidup baru bersama. Mereka menikah dan memutuskan berbulan madu dengan berkeliling pulau. Menikmati setiap sudut dengan mengendarai mobil sambil saling mengenal. Mereka berbahagia. Bisnis yang dijalani umar telah berkembang pesat dan Maryam diberi anugerah kehamilannya yang pertama.

Petaka datang lagi.

Pada saat kehamilannya memasuki bulan-bulan akhir, Perumahan tempat Ahmadi tinggal diserang oleh warga. Mereka diungsikan sementara waktu di penampungan untuk transmigrasi agar tidak ada korban yang lebih banyak. Mereka mengungsi tanpa membawa apa-apa dan mendapatkan kabar bahwa rumah yang mereka tinggalkan telah dijarah dan dibakar warga. Mereka tinggal di pengungsian sampai waktu yang tidak ditentukan. Pemerintah hadir lewat polisi yang memeriksa seminggu sekali dan bantuan sosial yang datang sebulan sekali. Mereka berusaha mencari solusi dengan menemui Gubernur dan hanya diberi solusi ” Pilih saja. Keluar dari Ahmadiyah lalu pulang ke Gegerung atau tetap di pengungsian sampai kita temukan jalan keluarnya.”

Novel ini ditutup dengan epilog sebuah surat yang ditulis oleh Maryam. Surat yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang hak mereka. Atas harta benda dan rumah yang mereka beli dengan uang hasil keringat mereka. Mereka tidak minta bantuan uang dan lainnya. Mereka hanya ingin kembali hidup normal di rumah mereka sendiri. Surat yang ditutup dengan pertanyaan :

Kami mohon keadilan. Sampai kapan lagi kami harus menunggu ?

Saya membayangkan tokoh Fahri dalam novel AAC 2 bertemu dengan tokoh Maryam dalam novel Maryam. Mereka bertemu dan berdialog. Dan Fahri tidak hanya membantu tetangga-tetangganya yang berbeda agama tapi juga membantu Maryam. Atau bisa jadi mereka justru saling jatuh cinta. Ah, itu cuma imajinasi saya. Tidak cuma di Indonesia. Kisah-kisah orang-orang yang terusir karena iman terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia. Orang-orang yang tidak pernah tahu sampai kapan mereka hidup di pengungsian. Seperti kalimat di sampul novel Maryam : tentang mereka yang terusir karena iman di negeri yang penuh keindahan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *