Tentang Kue Lebaran dan Orang-Orang yang Bergegas Pulang

kue-lebaran

Semalam, takbir berkumandang dari masjid di depan rumah. Suaranya bergema hampir sepanjang malam. Bagi saya, malam takbiran adalah cerita tentang kue lebaran dan orang-orang yang bergegas pulang demi bertemu mereka yang tersayang. Rutinitas saya ketika akhir ramadhan adalah pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan keluarga. Dan yang paling tidak bisa tidak, membantu ibuk mempersiapkan kue yang akan disuguhkan kepada tamu-tamu yang datang.

Setelah sebulan menjalani puasa, pulang ke rumah adalah salah satu hal yang saya rindukan. Saya rindu ayah dan ibuk. Saya rindu suasana malam takbiran di rumah. Saya rindu teriakan ibuk saya yang menyuruh ini itu untuk mempersiapkan yang terbaik buat lebaran kali ini. Termasuk mempersiapkan jajanan kue lebaran yang akan kami suguhkan di meja tamu.

Saya pulang bersama suami pada H-1 lebaran. Kami bertemu dengan orang-orang yang juga bergegas pulang agar dapat berlebaran di rumah bersama orang-orang tersayang. Kami pulang dengan kerinduan yang dalam pada mereka. Juga harapan serta berbagai oleh-oleh yang akan kami berikan kepada mereka agar mereka berbahagia.

Hari ini lebaran telah tiba. Hari dimana kita kembali menjadi fitri. Adalah jamak bagi kita semua untuk saling memaafkan kesalahan orang lain. Tapi jangan-jangan, ketika kita sibuk saling meminta maaf dan saling memberi maaf, kita lupa untuk melakukan refleksi diri. Seperti apakah kita setahun ini. Apakah kita sudah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Ataukah kita sudah benar-benar memaafkan diri di hari yang fitri ini.

Kadang kita tidak sadar, ketika kita berada dalam nuansa saling memaafkan, kita justru malah membuat dosa-dosa baru dengan menyakiti perasaan orang lain tentang pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dan di antara kue-kue yang saya tata semalam, di antara takbir yang menggema dari masjid di depan rumah, saya berusaha untuk menyiapkan senyuman paling manis untuk pertanyaan tentang kehamilan.

Di hari yang fitri ini, selain berusaha untuk saling memaafkan, kali ini saya berusaha untuk memaafkan diri saya sendiri yang barangkali tidak sempurna karena tidak kunjung hamil di usia dua tahun pernikahan kami. Ternyata, memaafkan diri sendiri tidak segampang yang saya kira. Saya masih tetap merasa bersalah karena merasa tidak sempurna. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya terus merasa bersalah.

Lalu, pada satu titik, saya menangis dan berbicara pada suami saya. Dia hanya menenangkan sembari mengelus rambut saya lalu berkata : “Sudahlah, sayang. Anak itu adalah titipan. Jika kita belum ditakdirkan menerima titipan, berarti Allah belum mempercayakan anak kepada kita. Yang penting, tetap ikhlas dan selalu bersyukur serta tetap tawakkal.”

Iya. Dia benar. Lebaran kali ini, seharusnya saya juga belajar ilmu ikhlas. Seharusnya saya juga tetap bersyukur. Atas hidup kami selama ini. Atas pernikahan kami dua tahun ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *