Bertiga Menyusuri Jalanan Jogja Tanpa Rencana

jogja-tanpa-rencana
Sekalipun saya sudah terbiasa ke Jogja tanpa rencana detail, perjalanan kali ini tetap istimewa. Karena dalam perjalanan kali ini, saya menghabiskan waktu di Jogja bersama dua teman sekelas saat SMA yaitu Titi dan Novita. Meski tanpa rencana, saya benar-benar menikmati setiap waktu yang saya lewati di Jogja. Bahkan, kami bertiga berencana untuk melakukan perjalanan berikutnya bersama-sama.

Berawal dari percakapan di Whats App, akhirnya kami bertiga sepakat untuk melakukan perjalanan bersama. Jogja menjadi pilihan pertama karena terjangkau untuk dikunjungi selama akhir pekan. Transportasi yang kami pilih adalah kereta api yang lebih santai daripada bus malam. Mereka berdua memasrahkan pemilihan dan pembelian tiket kereta api kepada saya. Novita, yang tinggal di Sidoarjo, membeli tiket kereta tambahan ke Malang agar bisa berangkat bareng saya dan Titi dari Malang.

Kami menaiki kereta api Malioboro Express kelas ekonomi yang berangkat dari Malang jam 8 Malam. Kereta kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta pada jam 4 pagi. Kami sempatkan istirahat sambil menunggu waktu sholat subuh tiba. Perjalanan di Jogja pun dimulai.

Menikmati Pagi di Monumen Tugu Jogja

Kami keluar dari stasiun Tugu Jogja dan berjalan kaki ke arah Monumen Tugu. Pagi itu sekitar jam 5, jalanan masih sepi sih. Kami menghabiskan waktu di monumen tugu sambil menikmati kendaraan yang berlalu lalang di sekitar kami. Ada juga beberapa orang yang sedang olahraga pagi melintas kami. Sekitar jam 7 pagi, kami menyusuri jalanan Margo Utomo menuju jalan Malioboro. Saat kami melewati perlintasan kereta api di depan stasiun Tugu, ada kereta-kereta yang lewat sehingga langkah kami harus terhenti beberapa saat. Memang, stasiun Tugu terkenal dengan stasiun ramai yang dilewati kereta selama 24 jam.

Menyusuri Trotoar Jalan Malioboro

Terakhir saya kesini, Trotoar Maliboro masih berfungsi sebagai parkir kendaraan bermotor roda 2. Kali ini, trotoar Malioboro benar-benar steril dari kendaraan bermotor jadi para pejalan kaki bisa berjalan kaki dengan tenang sambil menikmati makanan yang disajikan oleh para pedagang kaki lima di Trotoar. Kita bisa juga duduk-duduk cantik di kursi yang sudah disediakan di trotoar.

Pagi ini, kami menikmati nasi kucing di angkringan dekat halte Malioboro (Seberang jalan Sosrowijayan). Satu bungkus nasi kucing dihargai 2.500 rupiah. Pagi itu saya mengeluarkan uang 5.500 rupiah (Nasi kucing 2.500, teh panas 2.000, gorengan 2 biji @ 500). Murah banget kan ? Tapi, sekalipun makanan di pinggir jalan, biasakan untuk bertanya dulu harga makanan/minuman yang akan kita beli agar penjual tidak bisa memanfaatkan kita dengan menaikkan harga setelah kita menghabiskan pesanan kita.

Berbelanja di Pasar Beringharjo

Sebenarnya saya tidak terlalu suka berbelanja, kecuali memang sedang ingin. Kebetulan dua teman saya ini ingin membeli batik di Pasar Beringharjo. Jadi saya ikut mereka saja berbelanja. Memang, semenjak saya tahu sentra batik di Pekalongan, saya menjadi tidak terlalu tertarik untuk membeli batik di kota Lain. Hehehe.

Mencari penginapan di kawasan Prawirotaman : De Hostel Jogja

Setelah kelelahan ‘tawaf’ di Pasar Beringharjo, kami memutuskan untuk menyewa grab taxi menuju kawasan Prawirotaman. Karena perjalanan kali ini memang tanpa rencana detail, jadi kami belum memesan penginapan. Kami menyusuri jalan Prawirotaman gang 1 untuk mencari penginapan. Entah mengapa insting saya kok memilih De Hostel Jogja menjadi tempat menginap kami sampai hari minggu.

Cerita tentang De Hostel bisa dibaca di : Menginap di Hostel ? Coba De Hostel Jogja !

Nongkrong Cantik di Move On Cafe

Setelah beres-beres dan mandi di Penginapan, saya berencana menemui Happy, teman lama saya di Move On Cafe yang lokasinya tidak jauh dari penginapan kami. Kami memang lama tidak bertemu. Lha, mumpung si Happy lagi kuliah di Jogja, saya bisa lebih mudah menemuinya daripada kalau dia nanti kembali ngajar di Politeknik Batam.

Cerita tentang Move On Cafe bisa dibaca di : Move On Cafe Prawirotaman Yogyakarta

Mencari Oleh-oleh di Mirota Batik Malioboro

Setelah nongkrong cantik di Move On Cafe, kami bertiga kembali ke kawasan Malioboro karena Titi ingin membeli sesuatu di Mirota Batik. Titi dan Novita berbelanja lagi, sementara saya tidak membeli apa-apa. Berbeda dengan pasar Beringharjo yang bisa terjadi tawar-menawar, Mirota Batik adalah toko yang memberikan harga pas untuk barang-barang yang dijual di toko ini. Di lantai 3, ada restoran House of Raminten yang menyediakan makanan dan minuman serta pertunjukan Carbaret Show setiap malam minggu.

Makan Malam di Angkringan Margomulyo Malioboro

Setelah dari Mirota, kami melangkah ke angkringan Margomulyo yang terletak di sebelah Mirota. Tempatnya luas dan menunya lengkap. Cuma, harganya sedikit lebih mahal daripada angkringan di pinggir jalan. Tapi tidak apa-apalah, sepadan dengan tempat duduk yang ada jadi kami bisa mengobrol lama. Biasanya kalo makan di angkringan di pinggir jalan, kami tidak bisa duduk lama karena tempatnya sempit dan bergantian dengan orang lain yang akan membeli makanan.

Menonton Pameran di Taman Budaya Yogyakarta

Awalnya, kami berencana untuk menonton sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Cuma, untuk jadwal bulan april, Sendratari Ramayana tidak ditampilkan di panggung terbuka Candi Prambanan tapi di Gedung Teater Trimurti. Padahal, panggung terbuka candi Prambanan itulah yang menurut saya membuat pertunjukan sendratari Ramayana menjadi lebih epik dan magis. Itu karena saya sudah pernah menonton di panggung terbuka sebanyak 2 kali.

Selain alasan itu, alasan lainnya adalah lokasi Candi Prambanan yang cukup jauh serta perhitungan biaya transportasi pulang-pergi yang cukup banyak. Belum ditambah dengan harga tiket masuk sendratari Ramayana 125ribu rupiah membuat kami berpikir ulang untuk pergi kesana. Maklum, kami sudah banyak mengeluarkan uang saat kami berbelanja di pasar Beringharjo.

Akhirnya, kami iseng menjadi jadwal acara di sebuah situs. Di situs itu disebutkan ada pertunjukan tari gratis di Taman Budaya yang bersebelahan dengan Taman Pintar. Setelah kami berjalan kaki dengan semangat, ternyata kami salah tanggal. Tapi, di Taman Budaya juga ada pameran gratis yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur UGM. Titi dan Novita sudah kelelahan. Akhirnya, untuk menuntaskan rasa penasaran, saya masuk ke pameran tentang arsitektur itu.

Istirahat sambil Minum Jahe Hangat di ViaVia Cafe

Setelah menonton pameran arsitektur, kami memesan grab untuk kembali ke kawasan Prawirotaman. Sebelum kembali ke penginapan, kami mampir ke ViaVia Cafe yang letaknya persis di depan gang penginapan kami. Karena kelelahan, saya tidak sempat mengambil suasana di ViaVia. Next time jika saya kembali ke Jogja, saya akan mencoba makanan di sini. Kali ini kami cuma memesan Teh Jahe Hangat.

Makan Es krim Beraneka Rasa Di Tempo Gelato

Kelelahan setelah berjalan kaki seharian, membuat kami tidur lelap malam itu. Pagi harinya, kami bermalas-malasan sambil menunggu sarapan yang disediakan oleh De Hostel. Setelah menikmati sarapan di penginapan, kami menyusuri jalan Prawirotaman untuk mencoba es krim yang terkenal di Tempo Gelato.

Beruntung, pagi itu tidak terlalu ramai sehingga kami tidak perlu mengantri untuk menikmati es krim yang sudah kami pilih. Dua sahabat saya memesan es krim berwadah cone. Titi memesan es krim rasa mangga dan oranye. Novita memesan es krim rasa chocolate cookies dan praline. Sedangkan saya memesan es krim wadah cup dengan rasa Thai Tea dan Cinnamons.

Baca juga : Tempo Gelato, Nikmatnya Es Krim Beraneka Rasa di Jogja

Seperti itulah perjalanan akhir pekan kami bertiga ke Jogja pada tanggal 01-02 April 2017. Nantikan perjalanan-perjalanan saya berikutnya ya !

You may also like

7 Comments

  1. Aku udah beberapa kali ke Yogya tapi belum pernah foto-foto di Tugu Yogya, hanya lewat doang sebab pas naik kendaraan 😀
    Wiih full sekali intenary-nya ya Ria, puass deh wisata budaya hingga belanja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *