Bincang buku “Aku Mengenalnya dalam Diam” karya Ria AS

Alhamdulillah. Akhirnya kami berhasil juga mengadakan acara #NgajiLiterasi yang sudah direncanakan sejak bulan oktober tahun 2015. Kali ini kami mengadakan acara Bincang Buku. Berawal dari kegelisahan segelintir civitas akademika uin malang yang biasa nongkrong di kafe pustaka UM dan berharap bisa mengadakan kegiatan serupa di UIN Malang. Kegelisahan ini kemudian bersambut setelah ada dukungan dari Pak Faizuddin Herliansyah selaku Ketua Perpustakaan Pusat UIN Malang. Semoga kami konsisten menjalankan agenda ini. amiiiiinnn 😀

ngalit1

 

ngalit3

Berikut ini adalah ringkasan tulisan yang dibagikan oleh narasumber dalam acara ini :

(1)
Membaca Kumcer “Aku Mengenalnya Dalam Diam”
Oleh : Misbahus Surur (Pengajar di Jurusan Bahasa dan sastra Arab (BSA) UIN Maliki malang dan juga anggota Dewan Kesenian Kabupaten Trenggalek)
Cerpen-cerpen Ria AS diceritakan dengan gaya beraneka dan berbeda satu sama lain. Ada sebagian yang berhasil, banyak juga yang gagal sebagai cerita. Kegagalan tersebut dilihat dari aspek isi dan bentuk. Sedangkan keberhasilan dalam kategori tema-tema yang dipilih juga pada teknik mengakhiri cerita. Dari 8 cerita di buku ini, terdapat cerita yang berhasil dan menarik, diantaranya adalah cerita : Aku Mengenalnya Dalam Diam, Lain Waktu, Dua Puluh Satu Bulan, Ramalan Daerobi, dan Bus Kota dan Cinta Merah Muda
Pada cerpen Aku Mengenalnya Dalam Diam, keberhasilan cerita terletak pada tema yang unik dan cara mengakhiri cerita yang juga unik. Cerita ini berpeluang menjadi cerita yang lebih bagus kalau Ria bisa dengan sungguh-sungguh menggarapnya dan mengeksplorasinya lagi. Cerpen Lain Waktu berhasil mengakhiri cerita dengan hal yang sebetulnya biasa saja tapi dengan sudut pandang unik sehingga bisa menggambarkan cerita menjadi lebih hidup ,seperti pada cerpen Hamsat Rangkuti yang berjudul “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu”. Cerpen Dua Puluh Satu Bulan juga mengakhiri cerita dengan unik dan nyaris tidak tertebak. Cerita ini berpeluang menjadi cerita fantasi yang hebat, sebagaimana cerita “Aku Mengenalnya Dalam Diam” yang juga berpeluang menjadi cerita fantasi secara keseluruhan. Membaca dua cerita ini mengingatkan saya pada gaya-gaya yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Tapi bisa jadi karena konsumsi Ria adalah buku-buku Dewi Lestari, mungkin sedikit banyak cerita ini terilhami oleh model-model Dee.
Untuk cerita lainnya selain cerita di atas, jika dilihat secara isi (kualitas) maupun bentuk (cara mengartikulasikan), jauh tidak ada apa-apanya dibanding 4 cerita yang disebut diatas. Cerpen-cerpen ini masih sebatas catatan harian yang belum terolah dengan baik menjadi sebuah cerita. Contohnya adalah cerpen “Becak” yang nampaknya hanya sebatas catatan harian atau catatan hasil rekaman dalam mengomentari pengalamannya sendiri ketika bertemu tukang becak. Adapun cerpen “Cerita Dua Jiwa” memiliki gaya cerita yang mirip dengna “Kotamu”. Cerpen “Cerita Dua Jiwa” merupan cerita yang dibuat seperti dialog dengan penggalan-penggalan fragmen namun menurut saya tidak berhasil.
Ada tanda-tanda indikasi cerita bagus, sebagian diantaranya adalah ketika pembaca tak mau pergi dari narasi alias membacanya secara detail sampai selesai. Dan tak mau beralih dari cerita yang dibawakan oleh penulis. Cerita seperti itu, biasanya memiliki tema dan telah memenuhi syarat-syarat cerita dengan baik diantaranya adalah keunikan atau keberhasilan sudut pandang juga cara bercerita yang menggunakan teknik show don’t tell, yaitu sejenis teknik bercerita secara tidak langsung dengan melukiskan atau menggambarkan apa saja yang hendak diceritakan.
Saya pernah membaca puisi-puisi Ria dalam buku kumpulan puisinya “Ada Hujan Turun Pelan-Pelan” dalam sebuah pertemuan untuk mengkaji beberapa karya pegiat sastra di Pelangi Sastra Malang. Saya merasa Ria lebih berbakat mengolah Bahasa di prosa-prosanya dibandingkan dengan puisi-puisinya. Barangkali Ria juga lebih berbakat menulis cerita-cerita fantasi ketimbang cerita-cerita realis, karena cerita-cerita yang baik disini justru adalah cerita-cerita yang bergaya itu. Tapi tentu saja ini masih permulaan untuk berkarya. Mari kita tunggu karya-karya Ria selanjutnya tentu dengan isi dan teknik bercerita yang lebih baik dari karya-karya di buku ini.
(2)
Narasi Kota dan Cinta Dalam Kumcer Aku Mengenalnya Dalam Diam
Oleh : M. Rosyid HW (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Malang)
Membaca kumcer ini, kita akan dibawa menuju lorong-lorong kota dan lika-liku kehidupan cinta. Hampir keseluruhan cerpen dalam buku ini menjadikan kota dan cinta sebagai sebuah perpaduan realitas kehidupan. Cinta berbalut latar perkotaan dengan segala problematikanya. Namun kota disini bukanlah menjadi struktur sosial dengan uraian sosiologis yang lengkap, tapi menjadi sebuah penghampiran karakter dan tokoh yang dibuat oleh penulisnya. Kata-kata seperti bus kota, angkutan kota, jalanan, trotoar, becak, stasiun, dan kereta api adalah narasi-narasi konstruksi modern atas sebuah kota. Namun, justru modernitas kota ini belum terwujud secara ideal sehingga struktur-struktur sosial tersebut menjadi timpang. Ketimpangan inilah yang menimbulkan kritik-kritik sosial yang mampir di beberapa judul cerpen ini.
Walaupun narasi-narasi cinta banyak ditemukan dalam kumpulan cerpen ini, konstruksi cerita cintanya selalu berakhir dengan keadaan yang menyedihkan (sad ending) dan hampir tidak ada cerita yang mengisahkan tentang kebahagiaan cinta. Kisah-kisah dengan akhir menyedihkan dapat dibaca pada cerpen “Kotamu”, Lain waktu, Cerita Dua Jiwa, serta Ramalan Daerobbi hingga pertanyaan mendasar tentang cinta bisa memenuhi kepala pembaca setelah membaca kumcer ini. Apakah benar kisah-kisah cinta nyata seperti di dalam kumcer ini selalu berakhir dengan kesedihan ? adakah cerita cinta yang berakhir bahagia? Atau seperti apakah konsep kebahagiaan dalam cinta ? ataukah kebahagiaan cinta selalu bersanding dengan kesedihan cinta sebagai kodrat Tuhan ? karena segala sesuatu diciptakan Tuhan berpasang-pasangan, begitu pula kebahagiaan dan kesedihan. Atau ada pertanyaan lain yang lebih menarik akan cinta ?
Catatan :
# NgajiLiterasi (Ngalit) 1
Bincang buku kumpulan cerpen
“Aku Mengenalnya dalam Diam” karya Ria AS
(Dream Litera, Malang: 2015)

Pengulas:

Misbahus Surur
M Rosyid Husnul Waro’i
Moderator: Nurvianti Siti
Waktu: Rabu, 17 Februari 2016
Pukul: 14.00 – 16.30
Tempat: Perpustakaan pusat UIN Maliki Malang (Lt. 1)
Kerjasama pegiat sastra dan buku UIN Malang, Gusdurian Malang dengan perpustakaan UIN Malang.
Narahubung : 081333319044 (Ria AS)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *