Dua Sunrise di Akhir Pekan

Akhir pekan yang menyenangkan. Itulah kesimpulan saya untuk akhir pekan pertama di bulan September ini. Berawal dari ajakan trip bareng di sebuah grup backpacker, akhirnya sama bersama beberapa teman kos menikmati dua sunrise di dua tempat yang bertolak belakang. Tempat pertama adalah sunrise di pantai Bajul Mati Malang. Dan Tempat kedua adalah sunrise di Pananjakan yang merupakan salah satu kawasan dari wisata Pegunungan Bromo Tengger Semeru.

Pada awalnya, beberapa teman dari kota yang berbeda yaitu Jakarta, Medan, dan Bandung berkumpul di Surabaya untuk bersama-sama berangkat ke malang dengan kereta api. Karena adanya gangguan teknis, akhirnya kereta yang mengangkut mereka mengalami keterlambatan dan baru sampai di malang pada siang hari. Gara-gara ini, rencana awal untuk kemping di pulau sempu menjadi batal karena ada informasi bahwa ada larangan untuk memasuki pulau sempu di atas jam 4. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengubah tujuan ke pantai goa cina.

Ternyata permasalahan muncul lagi, teman-teman kami yang berasal dari luar kota belum memiliki penginapan untuk tempat singgah keesokan harinya sebelum ke Bromo. Hampir semua penginapan di malang sedang penuh. Beberapa guest house yang sesuai budget juga telah penuh terisi. Setelah mencari dan menghubungi satu guest house yang berada di dekat jalan bandung, akhirnya kami menemukan kamar dengan harga yang cukup murah. Masalah selesai. Kami bergegas menuju jalan raya untuk mencari carteran angkot. Tidak sampai 5 menit, tiba-tiba ada angkot rute GL menghampiri rombongan kami yang memang tampak mencolok dengan berbagai macam perlengkapan kemping. Angkot dengan supir cukup muda itu menawarkan carteran angkot ke pantai Goa Cina. Setelah sedikit tawar-menawar tentang ongkos sewa, akhirnya kami deal pada harga yang telah ditentukan. Kamipun segera mengangkat perlengkapan kemping dan segera berangkat menuju pantai Goa Cina.

Perjalanan menuju pantai Goa Cina kami termpuh dengan santai. Tawa memenuhi angkot yang kami tumpangi. Kami saling bertukar cerita sekaligus mengakrabkan diri karena memang diantara kami belum ada yang saling mengenal kecuali di media sosial. Kami sempat mampir di minimarket untuk membeli logistik dan sempat pula mampir makan malam di sebuah warung di desa terakhir sebelum kawasan pantai selatan. Atas saran warga sekitar, kami dianjurkan untuk bermalam di pantai bajulmati yang lebih ramai dan aman daripada di pantai goa cina. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya rombongan memutuskan untuk mengubah tujuan kemping di pantai bajulmati.

Kami tiba di pantai bajulmati sekitar jam 7 malam dan segera kulonumun kepada penjaga sekaligus petugas perhutani karena memang loket tiket masuk sudah tutup. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami mengundurkan diri dan segera mendirikan tenda di dekat pantai. Sebelumnya saya membayangkan lokasi pantai bajulmati sama seperti pantai kondangmerak yang masih sepi dan tanpa penerangan listrik. Ternyata malah sebaliknya. Di pantai bajulmati, banyak stand penjual makanan dan ada juga musholla lumayan besar lengkap dengan kamar mandi. Malam itu hanya kami uang mendirikan tenda di pantai. Ada juga sekelompok muda-mudi yang bermalam namun tidak mendirikan tenda dan menumpang tidur di musholla. Sekitar jam 4, ternyata banyak pengunjung yang baru datang pagi-pagi dan pantai mulai ramai. Dan akhirnya bayangan kami untuk menikmati pantai bajulmati selayaknya resort pribadi tidak terkabulkan.

bajulmati1Kami bergegas menuju salah satu bibir pantai yang paling ujung agar dapat melihat langit yang kemerah-merahan tanpa matahari mulai menampakkan diri. Setelah beberapa lama kami berdiri dan berfoto-foto, kami celingukan kesana-kemari menunggu matahari. Dan kami baru sadar kalau pagi itu sedang mendung. Maka gagal-lah sunrise pertama kami. Akhirnya kami hanya berfoto-foto dan menikmati ombak pantai selatan yang memang sedang tinggi-tingginya.

bajulmati4

Setelah puas menikmati ombak, kami sarapan sebentar dan berkemas-kemas menuju pantai goa cina. Sekitar jam 8 pagi, kami mulai berangkat menuju pantai goa cina. Ternyata jalan masuk menuju pantai goa cina masih belum diaspal. Sekitar 800 meter kami serasa ‘bergoyang’ diatas angkot, namun akhirnya pantai goa cina membayar kami dengan keindahan ombaknya. Hanya sekitar 1 jam kami di pantai goa cina karena memang kesepakatan awal dengan sopir angkot jam 10 kami sudah meninggalkan kawasan pantai selatan untuk kembali ke malang. Maka berakhirlah perjalanan kami di hari kedua. Teman-teman backpacker luar malang segera kembali ke penginapan, sementara saya dan salah seorang teman saya kembali ke kos dan istirahat untuk perjalanan nanti malam ke kawasan bromo

***

Setelah gagal mendapatkan sunrise di pantai goa cina akibat cuaca mendung. Saya berharap banyak bisa menemui matahari di bromo pada trip lanjutan hari ketiga. Kami berangkat jam 12 malam dari malang. Rombongan sejumlah 17 orang dibagi dalam 3 jeep. Rute yang kami tempuh melewati tumpang, poncokusumo, ngadas dan melewati jemplang untuk mencapai kawasan gunung bromo. Kami tiba di pananjakan sekitar jam 3 pagi dan ternyata di sana sudah banyak pengunjung lainnya yang bermalam atau tiba lebih dulu untuk melihat sunrise dari pananjakan. Ketika langit mulai kemerah-merahan, pengunjung mulai berdesak-desakan dan saling dorong untuk melihat matahari terbit dari sisi timur.

Semula saya mengutuk badan saya yang kecil dan pendek karena tidak bisa sekalipun melongok untuk melihat sunrise. Namun justru karena badan kecil saya, akhirnya saya bisa sedikit demi sedikit mencari celah di antara badan-badan yang agak besar untuk mencapai pinggir pagar dan melihat pemandangan kawasan bromo-semeru mulai dari gunung batok dan kawah bromo hingga gunung semeru dikejauhan. Saya dapat melihat bagaimana saya ternyata di atas awan dan menyaksikan bagaimana kabut bergerak dan menghilang pelan-pelan hingga gurun pasir mulai terlihat.

bromo3Begitu juga iringan jeep beraneka warna menuju kawah bromo yang dari penanjakan terlihat seperti iring-iringan semut. Meskipun gagal melihat sunrise secara langsung karena hanya melihat punggung orang-orang yang saling berebut melihat sunrise, saya bahagia bisa melihat pemandangan tak ternilai ini. Sambil sesekali komat-kamit agar bisa suatu saat mencapai mahameru, puncak gunung tertinggi di pulau Jawa.

bromo1Sekitar jam 7, kami kembali menuju jeep masing-masing dan perjalanan dilanjutkan menuju kawah gunung bromo. Rupanya kawah gunung bromo juga sudah di penuhi oleh ratusan manusia yang sejak dini hari sudah menanti sunrise. Meskipun kecewa karena gagal melihat dua sunrise di akhir pekan, setidaknya akhir pekan saya kali ini lengkap karena saya nikmati diantara dua tempat yang bertolak belakang : pantai dan gunung.

Catatan :

  • Sewa angkot ke malang selatan 2 hari 1 malam : Rp. 450.000
  • Sewa Jeep bromo Jam 00.00-12.00 : Rp. 1.200.000 (belum termasuk tiket masuk kawasan bromo)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *