KELANA, SEBUAH CERITA (BAGIAN TIGA)

Bulan ramadhan setahun yang lalu, adalah salah satu masa-masa berat yang saya alami setelah saya melahirkan anak pertama. Kelana, namanya. Saya yang memaksa pada suami untuk memberi nama satu kata Kelana, sedangkan dua kata lainnya saya serahkan padanya. Ternyata saya memang tidak siap untuk memiliki seorang bayi. Karena saya sama sekali tidak berpengalaman dan tidak memiliki stok sabar yang cukup.

Alhasil, hampir setiap bayi saya menangis, saya ikut menangis karena saya tidak mengerti kenapa bayi sering menangis. Saya kelelahan saat itu dan saya merasa sedih karena tidak dapat melakukan banyak hal yang biasa saya lakukan sebelum saya memiliki seorang anak. Saya merasa hidup saya berubah banyak. Semua orang selalu bertanya tentang bayi saya dan memberi saran ini itu. Tak lupa mereka menyalahkan saya ketika saya dianggap melakukan sesuatu yang berakibat buruk untuk bayi. Saya merasa seperti seluruh dunia tidak ada yang mengerti saya, bahkan suami, ayah dan ibu saya. Mungkin saya mengalami baby blues, atau bahkan postpantrum depression setelah melahirkan bayi pertama saya.

Lambat laun, saya mulai bisa menerima bayi saya sebagai bagian dari kehidupan saya. Sebagai sebuah titipan berharga yang saya cintai. Saya pelan-pelan mencintainya dan mulai memahami bahwa bayi saya terlahir ke dunia juga bukan karena keinginan dia sendiri. Saya yang menginginkannya, maka saya harus bertanggung jawab atas kelahirannya. Bagi bayi saya, yang tidak tahu apa-apa selain menangis dan tertawa, saya lah satu-satunya dunianya. Maka semenjak itu saya putuskan untuk menjadi dunia yang menyenangkan baginya. Dan sejak itu, saya mulai belajar arti legowo. Arti sebuah ikhlas yang sesungguhnya.

 

 

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *