Kelana, Sebuah Cerita (Bagian Pertama)

Hari jumat, tanggal 19 April 2019, barangkali adalah salah satu hari yang tidak akan terlupakan. Untuk pertama kalinya, saya merasakan pengalaman melahirkan. Berawal dari Ketuban Pecah Dini (KPD) pada pagi hari kamis. Akhirnya saya pergi ke bidan desa yang rumahnya cuma beda gang dari rumah saya. Setelah di cek, saya baru bukaan 1. Di sana saya dianjurkan ke Puskesmas karena dia sedang menangani pasien bukaan lengkap yang akan melahirkan.

Dengan perasaan tidak karuan karena HPL si adek baru pertengahan bulan Mei, saya dan suami membawa hospital bag ke puskesmas Batang. Dari sana, kami masih menunggu bidan yang bertugas hari itu. Baru jam 12 dia datang dan diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit yang menerima BPJS. Setelah menelepon ke beberapa rumah sakit dan mengkonfirmasi apakah bisa memakai BPJS sesuai kelas I, didapat informasi bahwa ada salah satu RS di kota Pekalongan yang masih kosong. Jadilah saya digotong ambulan ke RS tersebut.

Jam 4 sore, saya mulai diperiksa di ruang khusus di dalam IGD. Bidan bilang jantung bayi saya agak lemah dan disarankan untuk makan dulu sambil menunggu instruksi dokter lewat telepon. Jam 5, saya diberitahu bahwa instruksi dokter untuk saya adalah induksi sebanyak 2 kali. Dan mulailah induksi pertama jam 5 yang ternyata gagal karena saya masih tetap bukaan 1. Selanjutnya, dilakukan induksi kedua pada jam 9 malam. Induksi ini bekerja dengan baik hingga saya harus menggigil kedinginan karena kesakitan sambil menjambak dan memukul suami sebagai pelampiasan (maafkan ya, mas bojo). Sempat juga minta pindah RS dan memilih operasi sesar saja. Tapi suami cuma menanggapi : Sabaaar…Istighfaaar….

Setelah semua drama itu, akhirnya pada jam 03.57 pagi, si adek Kais lahir. Sempat tertahan karena saya tidak bisa mengejan dengan baik hingga perlu diberi oksigen dan obat antibiotik lewat mulut serta harus menginap semalam di RS untuk dilakukan observasi tambahan. Sementara saya sudah langsung bisa pulang pada sore hari itu juga. Sedih sih.

Baru keesokan harinya, saya ditelpon untuk diberitahu bahwa bayi kami sudah boleh pulang. Bagaimana rasanya punya bayi ? Hhhmmmmmmmmm……luar biasaaaaa 😍😍😂😂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *