LIKA-LIKU WORK FROM HOME

Tak terasa, sudah hampir sebulan sejak edaran Work Form Home diberlakukan. Rasa-rasanya saya sudah di rumah berbulan-bulan. Tapi demi anjuran #dirumahaja agar memutus mata rantai penyebaran corona, saya betah-betahkan juga untuk tetap di rumah, kecuali sesekali ‘rekreasi’ keluar rumah untuk beli jajan dan kebutuhan lainnya dengan perasaan was-was.

Toh ini bukan pertama kalinya saya #dirumahaja. Karena dulu, tepat setahun lalu, saya juga pernah selama 40 hari tidak keluar rumah setelah melahirkan. Waktu itu sih sempat stres karena penyesuaian sama si bayi. Sempat kena baby blues dan bisa tiba-tiba nangis tanpa sebab. Meski akhirnya saya bisa melewatinya dan kadang tertawa sendiri melihat kelebaian saya dulu.
Saat ini, tingkat stresnya berbeda. Si bayi lagi aktif-aktifnya. Pingin tau semua benda. Disentuh. Dimakan. Dibuang. Entah berapa kali dia jatuh atau terguling sendiri. Seru sih. Kadang jadi mengingat momen-momen saat ini baru lahir setahun lalu.
Sekalipun saya lagi bosan di rumah, saya berusaha untuk tidak mengeluh. Toh saya masih punya privilege untuk kerja dari rumah dengan tetap digaji. Masih banyak karyawan yang dirumahkan atau di-PHK di situasi saat ini. Masih banyak juga pekerja lepas yang menggantungkan hidupnya dengan pendapatan hari ini untuk makan hari ini. Jadi ketika mereka tidak bekerja hari ini, maka mereka juga tidak bisa makan. Kalau saya masih mengeluh karena bosan di rumah, itu sungguh memalukan.
Privilege yang kedua, saya bekerja di sektor pendidikan. Saat ini kampus lagi libur dan perkuliahan diganti lewat online. Apalah arti kontribusi saya selama masa WFH ini dibanding perjuangan teman-teman saya di bidang kesehatan. Dalam lingkup keluarga kecil kami, kakak ipar saya bekerja sebagai bidan di puskesmas, dan adik ipar saya bekerja sebagai apoteker di sebuah apotek. Mereka tidak bisa WFH. Mereka bekerja dengan was-was karena setiap hari bertemu dengan banyak orang. Saking takutnya, adik ipar saya yang biasanya tiap pulang dari apotek selalu mampir ke rumah untuk gendong bayi saya, sekarang sudah jarang ke rumah. Dia takut menjadi carrier dan menularkannya pada bayi dan orang tua di rumah.
Ngomong-ngomong soal WFH, ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Duduk tenang di depan laptop mulai pagi sampai sore ternyata adalah hal yang fana untuk seorang ibu dengan satu bayi. Dan saya tidak bisa membayangkan gimana rasanya WFH seorang ibu dengan lebih dari satu bayi/anak dengan kondisi si anak juga Belajar Dari Rumah. Pasti lebih ribet. Belum lagi ngurusi pekerjaan rumah lainnya. Bahkan akhirnya saya bisa menemukan pola kerja. Mencari-mencari kesempatan membuka laptop saat si bayi tidur. 2 jam pagi hari setelah sarapan. 2 jam saat siang/sore hari. Lalu malam hari, saya baru bisa begadang sampai pagi. Itupun kadang kepergok dia yang tiba-tiba bangun, lalu merobek buku-buku dan menekan keyboard laptop dengan wajah yang sangat bahagia.
Tapi itupun saya masih bersyukur, punya suami yang mau diajak berbagi pekerjaan rumah dan mengurus anak. Bagaimana dengan ibu-ibu yang bekerja dari rumah dan juga mengurus anak secara penuh sendirian karena suami yang tidak mau berbagi peran ? Dari beberapa berita yang saya baca, laporan KDRT di seluruh dunia semakin meningkat selama masa lockdown atau masa karantina di rumah. Duh, peluk saya untuk semua ibu-ibu hebat di seluruh dunia.
Tapi saya (juga) terus bersyukur, saya masih punya privilege (lagi). Tidak terlalu banyak kendala jaringan internet selama WFH. Di rumah, selain saya, ada adik ipar yang lagi kuliah S2 di Undip. Perkuliahan onlinenya dilakukan tatap muka dengan Microsoft Team. Jadilah dia bertapa di kamar selama kuliah. Beruntung, rumah kami di dekat pusat kota dan kami berlangganan internet bulanan sehingga untuk koneksi tidak ada masalah. Namun, setelah hampir satu bulan kuliah, laptop lama adik saya sering error saat pertengahan kuliah sehingga dia akhirnya pinjam laptop. Meski mungkin kami bisa beli laptop baru, kondisi seperti saat ini tidak terlalu tepat untuk menambah pengeluaran dengan membeli laptop.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa saya ?
Minggu pertama kuliah online, saya sangat bersemangat. Tujuan kuliah online selain tetap melanjutkan apa yang sudah menjadi kewajiban penyelenggaraan pendidikan adalah mengurangi juga physical distancing. Biar mahasiswa tetap di rumah dan bukan malah keluyuran untuk nongkrong atau berwisata.
Saya -yang gaptek dan jadul ini- benar-benar ingin berubah mengikuti perkembangan zaman. Dan ternyata kuliah online dengan GCR itu lebih terstruktur dan mudah karena selama ini saya cuma berkomunikasi dengan mahasiswa lewat aplikasi WA. Awalnya saya semangat mengajar sesuai jadwal. Saya minta mahasiswa untuk mengisi presensi sesuai jam kuliah dengan batas waktu yang ditentukan.
Tapi kemudian terbesit di pikiran : apa mahasiswa punya privilege yang sama seperti saya ?
Minggu kedua dan ketiga kuliah online, saya mulai longgar. Beberapa mahasiswa meminta keringanan untuk absen lewat WA karena cuma punya kuota medsos. Ada juga yang memakai akun lain untuk mengumpulkan tugas di GCR karena HP nya tidak terlalu bisa untuk download banyak aplikasi. Ada yang baru absen besok harinya karena kendala sinyal.
Ya, saya lupa kalo tidak semua mahasiswa tinggal di dekat pusat kota seperti saya. Ada yang tinggal di pelosok desa atau di area gunung yang susah sinyalnya. Saya lupa kalo mungkin orang tuanya pekerja harian atau punya usaha yang sepi karena terkena dampak corona. Sehingga mungkin mahasiswa saya berusaha berhemat dengan tidak meminta uang untuk membeli kuota.
Kadang saya masih bertanya, apa tepat jika saya memaksakan tugas-tugas kepada mahasiswa agar materi-materi yang sudah saya susun di RPS tercapai dengan kondisi darurat kesehatan seperti ini ? Dimana kita bahkan tidak tau siapa saja yang benar-benar ODP atau positif Covid-19 di sekitar kita ? Selain rebahan di rumah, apa yang kira-kira bisa kita lakukan untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19 ?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *