Menolak Tua di Meja Kerja

menolak tua di meja kerja
Tidak terasa sudah 7 tahun sejak pertama saya bekerja tepat pada tanggal 8 Februari 2010 . Saya tidak pernah menyangka bertahan selama ini, di tempat yang sama, dengan orang-orang yang sama pula. Stagnan dan tidak ingin keluar dari zona nyaman. Mungkin itu gambaran keadaan saya. Hingga suatu ketika, saya bertemu dengan seorang teman yang membuat saya akhirnya mengatakan, “saya menolak tua di meja kerja.”

Ada satu kejadian yang membuat saya akhirnya sadar. Suatu hari, saya bertemu dengan salah seorang teman saat kuliah di UM. Dia telah lulus studi S2 psikologi UGM tepat waktu selama 2 tahun. Padahal, kami mulai kuliah S2 pada tahun yang sama. Beda nasib. Sekarang dia menjadi salah satu trainer untuk seminar-seminar peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jakarta.

Dia berkunjung ke Malang. Tidak disia-siakan, saya menemuinya untuk mendapat siraman psikologis. Obrolan kami dibuka dengan ceritanya yang menggebu-gebu tentang rencana pernikahan dan hal-hal yang membuatnya memutuskan untuk menikah tahun depan. Kami mengobrol dengan cekikikan disana-sini. Sampai dia berkata,

“passion itu adalah ketika kamu mati, kamu ingin dikenal orang sebagai apa.”

Saya terdiam saat itu. Mulai berpikir tentang segala yang saya lakukan selama ini. Jika pertanyaan kamu ingin dikenal orang sebagai apa ditanyakan, saya akan menjawab saya ingin dikenal sebagai penulis. Lha, ingin dikenal jadi penulis tapi kok tidak pernah menulis ?

Galau melanda. Pekerjaan sebagai bagian keuangan membuat saya hanya bertemu dengan angka-angka. Tidak terasa selama 7 tahun ini saya tergantung pada alat hitung bernama kalkulator dan Ms. Excel hingga tidak memiliki kepercayaan diri untuk menghitung secara manual menggunakan otak saya.

Sepertk kata orang, menjadi karyawan adalah hal yang membosankan. Kita hanya bertemu hal yang sama selama bertahun-tahun. Bekerja di depan komputer selama 8 jam tanpa sempat melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Memang benar sih. Tapi ada 3 hal yang selama ini saya lakukan agar tidak bosan. Agar kita tidak menyesal ketika kita tersadar 10 tahun atau 20 tahun kemudian, kita ternyata menua di meja kerja dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak kita sukai.

Inilah 3 hal yang saya lakukan untuk mengatasi kebosanan selama 7 tahun saya bekerja sebagai karyawan.

1. Mengenali Passion

Seperti kata teman saya, passion ibaratnya adalah apa yang kita  kerjakan dengan senang hati tanpa beban. Kita ingin orang lain tahu siapa kita lewat passion yang kita miliki. Seharusnya kita sudah menyadari passion kita sejak dini. Saya terbilang telat karena mengenali passion saya untuk menulis baru di usia 20an. Seandainya lebih awal, tentu saya bisa lebih semangat untuk belajar dan berharap menghasilkan karya lebih banyak.

Setelah saya mengetahui passion saya di bidang tulis-menulis, saya mulai belajar  menulis. Jika pagi saya bekerja, malam harinya saya sempatkan buat menulis cerpen. Ya…..meskipun saya cuma bisa menyelesaikan 8 cerpen dalam waktu 10 tahun (jangan ditiru). Selain menulis cerpen, saya juga menulis di blog. Beberapa ulasan tentang buku dan film saya tulis ulang di blog. Saya juga menulis beberapa cerita perjalanan tentang kota atau tempat yang sudah saya kunjungi.

Untuk mendokumentasikan karya-karya saya, dengan tekad baja setengah nekat, saya menerbitkan buku sendiri. Saya menabung setiap bulan agar bisa menerbitkan buku karena menerbitkan buku secara indie memerlukan biaya produksi sekitar 1juta-2juta. Setelah dua tahun menabung, baru pada tahun 2013 saya bisa menerbitkan buku kumpulan puisi “Ada Hujan Turun Pelan-Pelan”. Dua tahun kemudian, saya menerbitkan buku kumpulan cerpen “Aku Mengenalnya Dalam Diam”.

Jadi, mulai dari sekarang, coba kenali passion kamu dan segera lakukan apa yang kamu sukai.

2. Selalu update informasi berkaitan dengan passion

Sekalipun saya sibuk dengan deadline dan seabrek tugas di kantor, saya tetap berusaha terhubung dengan dunia kepenulisan. Saya tetap update informasi tentang buku-buku yang baru terbit. Saya juga berusaha bergabung dengan grup-grup menulis di media sosial dan menghadiri acara-acara kepenulisan.

Intinya tidak pernah berhenti untuk belajar dan terus belajar tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan passion kita.

3. Jalan-jalan di akhir pekan

Nah, jalan-jalan adalah bagian yang saya tunggu di akhir pekan. Jalan-jalan berguna untuk menyegarkan kembali pikiran kita sekaligus mencuci mata. Lha gimana, selama hampir 7 tahun, saya tiap hari bekerja di ruangan sempit tanpa jendela untuk melihat matahari. Otomatis jarak pandang saya hanya seputar komputer, kalkulator, duit receh, serta orang-orang yang sama.

Dengan jalan-jalan di akhir pekan, saya bisa melihat tempat-tempat baru dan berkenalan dengan orang-orang baru. Kadang dengan jalan-jalan itu saya justru dapat pengalaman baru dan sahabat-sahabat baru. Yang membuat saya belajar untuk memahami sebuah masalah dari sudut pandang lain. Dan satu hal penting lainnya, jalan-jalan membuat saya tetap muda karena dalam beberapa trip saya berkumpul dengan traveler yang berusia muda, energik, dan penuh spontanitas.

Tahun 2013 s.d. tahun 2015 adalah masa dimana saya ‘gila’ jalan-jalan. Hampir setiap minggu bisa dipastikan saya tidak berada di kost. Jika minggu sebelumnya saya pergi pantai di malang selatan, minggu berikutnya saya bisa ke gunung Kelud atau mendadak beli tiket kereta ke Jogja. Minggu berikutnya saya bisa ngetrip ke pantai di Banyuwangi. Bulan berikutnya saya bisa saja ke Bali. Kadang trip saya selesai pada senin pagi yang membuat saya langsung pergi ke kantor dan menumpang mandi di kantor.

Asalkan tetap profesional dan tidak mengganggu pekerjaan di kantor, sebisa mungkin buatlah rencana untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bisa jalan-jalan di dalam kota saja atau malah pergi ke luar kota. Pikiran kita akan segar kembali. Dan saat hari senin tiba, kita tidak perlu bilang : I Hate Monday !

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *