RIA IRAWAN DAN KEWASPADAAN SEJAK DINI MELAWAN KANKER

Siapa yang tidak kenal Ria Irawan, artis bernama lengkap Chandra Ariati Dewi Irawan ini telah berjuang selama 10 tahun untuk melawan kanker kelenjar getah bening. Perjuangan panjang melawan sebuah penyakit yang membuat Ria Irawan menjadi perempuan tangguh. Meski kemudian sel kanker tersebut menyebar hingga paru-paru dan otak, dan Ria Irawan akhirnya mengakhiri perjuangannya melawan kanker pada awal tahun 2020.

Pada awalnya, Ria Irawan sempat mempunyai miom di dalam rahimnya namun dia menghindari solusi untuk melakukan operasi pengangkatan rahim. Namun, Ria Irawan akhirnya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan rahim setelah dia mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker dinding rahim dan kanker tersebut telah menjalar ke kelenjar getah bening.

Meski menderita kanker, Ria Irawan tetap menjalani aktivitasnya sebagai artis di sela-sela pengobatannya di rumah sakit. Bahkan Ria Irawan sempat mendapat berbagai penghargaan atas aktinya di film-film yang dibintanginya. Setelah mengikuti prosedur pengobatan secara rutin untuk pasien kanker seperti kemoterapi dan radiasi, Ria Irawan dinyatakan bebas dari sel kanker pada tahun 2014. Namun, pada tahun 2019, sel kanker tersebut ternyata telah menyebar ke paru-paru dan otak sehingga Ria Irawan kembali menjalani pengobatan intensif di rumah sakit. Setelah perjuangan keras melawan kanker yang menyebar secara ganas ke seluruh tubuh, Ria Irawan pada akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 06 Januari 2020 jam 4 pagi.


WASPADA SEJAK DINI

Kanker kelenjar getah bening merupakan kanker ganas yang menyerang kelenjar getah bening, kelenjar ini ada di seluruh tubuh dan tidak dapat diraba. Tapi pada beberapa bagian seperti leher dan ketiak, kelenjar ini dapat diraba karena ukurannya sekitar 1 sentimeter. Kanker kelenjar getah bening sebenarnya dapat dideteksi sejak dini. Penderita kanker kelenjar getah bening atau limfoma maligna biasanya memiliki keluhan utama yaitu benjolan yang tidak terasa sakit, cenderung membesar, dan menetap bisa pada bagian leher atau ketiak.

Jadi, kita harus waspada jika kita memiliki benjolan di leher karena bisa jadi benjolan itu adalah tanda awal dari pembengkakan akibat kanker kelenjar getah bening. Jika kita memiliki benjolan di leher, kita bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendeteksi apakah benjolan tersebut berbahaya atau tidak. Jika berbahaya, pemeriksaan medis perlu dilakukan dengan pemeriksaan jaringan kelenjar getah bening melalui biopsi. Perlu juga dilakukan tes darah untuk mengetahui jumlah sel darah putih. Dengan pemeriksaan medis seperti itu akan membantu dokter untuk melihat stadium kanker kelenjar getah bening. Karena semakin cepat kita mengetahui sebuah penyakit dan menjalani pengobatan untuk mengatasi penyakit tersebut, maka akan semakin mudah proses penyembuhannya.

Namun, dengan kondisi pandemic Covid-19 seperti saat ini, memeriksakan diri dengan pergi ke rumah sakit atau ke tempat praktik dokter sebaiknya dilakukan jika dalam kondisi yang mendesak atau terpaksa. Jika masih dalam kondisi tidak terlalu mendesak, kita dapat menggunakan alternatif aplikasi Halodoc, salah satu platform yang menjadi sarana untuk memudahkan pencarian atas layanan kesehatan yang menghubungkan kita dengan pihak ketiga. Dengan Halodoc, kita bisa bicara dengan Dokter yang bisa kita pilih, membeli obat, melakukan pemeriksaan laboratorium, membuat janji kunjungan ke rumah sakit, bahkan kita bisa membuat janji untuk pemeriksaan test Covid-19.

Sebagai contoh, saya pernah menggunakan aplikasi Halodoc untuk anak saya. Saat itu, anak saya yang masih berusia 1 tahun memiliki bercak-bercak putih di wajahnya. Karena kondisi pandemic Covid-19 dan anak-anak termasuk dalam kategori rawan terpapar virus tersebut, saya mencoba mencari alternatif lain untuk berkonsultasi dengan dokter yang tidak perlu melakukan konsultasi secara tatap muka.

Akhirnya saya menggunakan aplikasi Halodoc yang saya download lewat Playstore. Di aplikasi tersebut, kita bisa memilih dokter untuk berkonsultasi, dan kita juga akan mendapatkan resep obat setelah konsultasi. Bahkan dokter akan menyarankan kita untuk bertemu tatap muka dengan dokter spesialis di sekitar tempat tinggal kita jika keluhan tersebut tidak mereda. Benar-benar sebuah alternatif yang mudah dan dapat dipercaya karena dokter yang terdaftar memiliki syarat ijin praktik dan kita bisa mengetahui berapa tahun pengalaman dokter tersebut dalam berpraktik.

Sumber foto Ria Irawan : instagram/riairawan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *