Tentang Kehamilan Pertama Dan Kegelisahan Yang Menyertainya

Barangkali ada dua reaksi ketika seorang perempuan mengalami kehamilan pertamanya : Bahagia atau tidak bahagia. Bahagia karena dia begitu menginginkannya. Atau tidak bahagia karena dia tidak menginginkannya. Saya pernah mengenal perempuan yang berada pada reaksi kedua, yaitu tidak menginginkan bayinya. Penyebabnya karena kehamilan tersebut terjadi tanpa sebuah hubungan resmi. Kehamilan tanpa direncanakan. Dia hamil secara diam-diam. Lalu melahirkan secara diam-diam.

Saya sempat mengantarkan dia ke klinik pasca dia ketahuan melahirkan seorang diri di dalam kamarnya. Ketika dia menjalani perawatan pasca melahirkan di sebuah klinik, saya dan seorang teman yang kebetulan memegang ponselnya menerima panggilan dari seorang laki-laki bernama ‘suami’ di kontak ponsel tersebut. Kami mengangkatnya dan menyampaikan berita gembira kelahiran anaknya. Tapi reaksinya sungguh tidak terduga. Dia mencaci maki si perempuan dan mengatakan dia jalang. Lalu memaksa kami menghapus nama kontaknya dari telepon tersebut. Dia juga memaksa kami untuk segera memberikan telepon tersebut pada si perempuan agar dia bisa berbicara secara langsung. Bahkan, ketika si perempuan sudah selesai dirawat (dengan jahitan yang lumayan banyak karena dipakai jalan pasca melahirkan tanpa bantuan siapapun) dan bisa menerima telepon, kami bisa mendengar bagaimana dia mencaci maki si perempuan karena keteledorannya ‘ketahuan’ orang lain ketika melahirkan.

Sampai detik terakhir saya bertemu dengan si perempuan, dia tetap menutup mulut terhadap siapa pun tentang siapa bapak dari si bayi. Kabarnya, bayi tersebut akhirnya dirawat oleh salah seorang saudaranya yang memang belum dikarunai anak. Kalau mengingat momen itu, mata saya mendadak sembab. (Cerita ini menjadi inspirasi dalam salah satu cerpen saya yang berjudul “Kupu-Kupu di Taman Kunang-Kunang” dan dimuat di Radar Malang Jawa Pos, bias dibaca di sini  https://ranselperi.com/kupu-kupu-di-taman-kunang-kunang/ )

Tentu saya bukan perempuan tersebut. Saya bukan perempuan yang tidak menginginkan kehamilan pertama. Saya menginginkan kehamilan ini. Saya menginginkannya karena hati kecil saya menginginkannya. Saya menginginkannya karena orang-orang yang saya sayangi juga menginginkannya. Saya menginginkannya karena saya merasa ini waktu yang tepat. Secara emosional saya sudah merasa cukup ‘matang’ untuk menjadi seorang ibu. Dan saat ini adalah waktu yang tepat karena mungkin dalam beberapa tahun ke depan ketika saya berencana untuk sekolah lagi, saya sudah bisa membawanya bersama saya. Pertanyaannya, mengapa saya merasa tidak antusias dengan kehamilan pertama ?

Masa-masa berat bagi saya adalah ketika bulan kedua kehamilan. Saat pertama kali tahu saya ternyata hamil. Entah mengapa saya tidak ingin semua orang, kecuali suami, mengetahui kehamilan pertama saya. Saya seperti ingin menyimpannya sendiri. Saat keluarga terdekat dan beberapa teman akhirnya saya beri tahu, semua memberi selamat. Semua berdoa untuk saya. Semua berbahagia. Pertanyaannya, mengapa saya justru tidak berbahagia ?

Ketika semua orang menjadi perhatian pada saya. Saya justru semakin sedih. Saya berpikir, apakah mereka peduli pada saya ataukah semata-mata pada jabang bayi saya ? Mengapa semua orang menyuruh saya untuk makan ini itu yang ujung-ujungnya ‘semua demi sang jabang bayi’, tapi tidak ada yang bertanya bagaimana perasaan saya serta apa yang sesungguhnya ingin saya makan. Banyak pertanyaan-pertanyaan berkecamuk di kepala. Kata teman saya, ini wajar. Sensitivitas karena perubahan hormon ibu hamil bisa terjadi pada sebagian besar perempuan. Yang perlu saya lakukan hanyalah melewati fase ini dengan tenang. Karena semua akan kembali normal.

Bagaimana kalau ini akan berlanjut, seperti beberapa perempuan yang mengalami ‘baby blues’ setelah melahirkan. Mereka merasa sendirian ketika menghadapi kehamilan dan menjadi ibu baru karena semua orang dirasa hanya peduli pada bayinya. Beberapa perempuan mengalami tekanan pasca melahirkan karena harus menuruti banyak hal yang sudah menjadi ‘tradisi’. Belum lagi limpahan kesalahan karena menjadi perempuan ‘tidak normal’. Seperti melahirkan sesar dianggap manja atau tidak bisa menyusui dengan asi eksklusif dianggap tidak mau berusaha. Tapi mengapa tidak ada yang mau mencari akar masalah kenapa dia harus dioperasi atau kenapa dia tidak bisa menyusui. Bisa jadi karena kasus kesehatan khusus. Bisa jadi dia tertekan karena beberapa tradisi yang mengharuskan dia melakukan banyak ritual pasca melahirkan. Tapi, who’s care ?

Sekarang kehamilan saya memasuki bulan ke-empat. Kalau dalam agama islam, sebentar lagi ruh akan ditiupkan ke dalam janin di perut saya. Kondisi emosi saya agak stabil. Tidak sesensitif bulan lalu. Apalagi setelah saya melakukan beberapa perjalanan keluar kota dan keluar dari rutinitas saya di kampus dan di rumah. Saya bahkan bisa makan dengan porsi lebih banyak daripada ketika saya di kampus atau di rumah. Saya berusaha untuk minum vitamin dari dokter setiap hari.

Saya mulai bisa menghadapi kehamilan pertama ini. Saya pelan-pelan mulai menyadari kalau perut saya membesar, dan ada nyawa di dalamnya yang tiap detik mengalami perkembangan secara perlahan-lahan. Saya mulai mencari rasionalisasi yang bisa saya terima. Semacam peta konsep yang saya buat di kepala agar saya lebih peduli pada jabang bayi ini. Sama seperti ketika saya mendapat SK Menteri Agama untuk menjadi calon dosen yang bertanggung jawab atas anak didik saya, maka sekarang saya mendapat SK dari Tuhan untuk menjadi calon ibu yang kelak akan bertanggung jawab atas bayi saya. Bukankah itu tanggung jawab yang sangat besar dan tidak dapat diabaikan begitu saja ?

Sepertinya memang benar, fase sensitif harus saya lewati dengan tenang. Seharusnya saya bersyukur, seperti kata seorang teman, karena tidak semua orang seberuntung saya. Masih banyak perempuan yang berjuang untuk kehamilan pertamanya. Masih banyak pasangan yang berjuang untuk memiliki anak. Sementara saya malah sibuk berjibaku dengan pikiran-pikiran aneh yang terlintas ketika saya sedang sendirian dan tidak memikirkan apa-apa. Mungkin saya hanya perlu bertemu beberapa teman lama yang sama-sama ‘aneh’ dan mengerti jalan pikiran saya. Mungkin kepala saya perlu dijitak sedikit biar saya segera sadar. Hehehe.

Huft. Lega rasanya bisa menulis dan berbagi tentang perasaan saya. Kadang ada banyak hal yang tidak bisa saya sampaikan secara lisan, bahkan kepada suami saya sendiri. Menulis memang saya jadikan terapi ketika sedang galau. Dan, terapi itu berhasil. Kini tiba saatnya saya menikmati masa-masa trimester kedua dengan hati riang. Bukan saatnya lagi memberi tempat kepada masalah sepele semacam kebahagiaan. Bukankah ketika seorang perempuan menjadi ibu, kebahagiaan dirinya bukan lagi hal utama, melainkan kebahagiaan keluarga adalah segalanya. Lagipula, tidak ada alasan untuk tidak bahagia. Saya memiliki suami yang mencintai saya. Juga keluarga dan teman-teman yang peduli pada saya. Pertanyaannya sekarang justru berbalik : “Bukankah seharusnya saya berbahagia ?”

*Ditulis di parkiran Undip Pleburan dengan hati riang, sambil menunggu suami selesai pelatihan advokat, dibawah pohon-pohon rindang dan deretan bangunan tua serta kicau burung yang mengingatkan saya pada kampus Universitas Negeri Malang. Jadi, adakah yang ingin berbagi dengan saya tentang perasaan saat kehamilan pertama ?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *